Ancam Oman Jika Kuasai Selat Hormuz, Trump: AS Siap Bertindak

Newswire
Newswire Kamis, 28 Mei 2026 12:47 WIB
Ancam Oman Jika Kuasai Selat Hormuz, Trump: AS Siap Bertindak

Sultan Oman Haitham bin Tariq (kanan) bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) untuk membahas perkembangan regional terkini dan visi Teheran tentang isu-isu regional di Istana Al Baraka, Muscat, Oman, pada 26 April 2026. /ANTARA/Anadolu/pri.

Harianjogja.com, WASHINGTON—Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras terkait Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Dalam pernyataannya pada Rabu (27/5/2026), Trump menegaskan bahwa tidak ada negara, termasuk Iran maupun Oman, yang diperbolehkan menguasai jalur perairan internasional tersebut. Ia bahkan menyampaikan ancaman tegas terhadap Oman jika mencoba mengambil kendali atas wilayah itu.

“Oman harus bertindak seperti negara lain, atau kami akan mengambil tindakan tegas,” ujar Trump saat menjawab pertanyaan wartawan terkait kemungkinan kesepakatan regional.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, sekaligus menjadi rute utama distribusi minyak global. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu dampak besar terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk semua pihak sebagai perairan internasional. “Tidak ada yang akan mengendalikannya. Kami akan mengawasi, tetapi jalur itu harus bebas dilalui,” katanya dalam rapat kabinet.

AS Lakukan Blokade Sejak April

Sejak 13 April 2026, Angkatan Laut AS diketahui telah melakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.

Meski demikian, Washington menyatakan bahwa kapal non-Iran tetap diperbolehkan melintas selama tidak membayar bea atau pungutan kepada Teheran.

Di sisi lain, Iran hingga kini belum secara resmi menerapkan kebijakan pungutan tersebut, meskipun wacana itu sempat mencuat dalam diskusi internal pemerintahnya.

Project Freedom Sempat Dihentikan

Pada awal Mei, Trump sempat meluncurkan inisiatif bertajuk Project Freedom yang bertujuan membantu kapal-kapal yang terjebak di kawasan Selat Hormuz.

Namun, hanya sehari setelah diumumkan, program tersebut dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi proses negosiasi dengan Iran.

Langkah ini menunjukkan bahwa meski bersikap keras, AS tetap membuka peluang diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

CENTCOM Bantah Pengawalan Kapal

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah laporan yang menyebut pihaknya telah kembali melakukan pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa situasi di kawasan tersebut masih dinamis dan belum sepenuhnya stabil.

Negosiasi Masih Berlangsung

Trump mengungkapkan bahwa isu Selat Hormuz saat ini masih dalam tahap negosiasi dengan Iran. Meski demikian, ia memastikan bahwa AS tidak akan membiarkan satu pun negara mendominasi jalur strategis tersebut.

Ketegasan Washington dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz menjadi sinyal kuat bahwa kawasan ini akan tetap menjadi fokus utama dalam dinamika geopolitik global ke depan.

Dengan meningkatnya tensi, dunia kini menanti apakah jalur diplomasi mampu meredakan konflik, atau justru memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online