81 Pesawat dan Helikopter Akan Meriahkan Peringatan HUT ke-81 RI
Gladi kotor HUT ke-81 RI digelar di Istana Merdeka. Sebanyak 81 pesawat dan helikopter mengikuti latihan demo udara.
Sungai Progo. - Wikipedia
Harianjogja.com, JAKARTA—Risiko bencana berulang mengintai 108 Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis di Indonesia, sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan rehabilitasi DAS dan perbaikan infrastruktur air harus menjadi solusi permanen, bukan sekadar respons darurat tahunan.
Data BNPB menunjukkan, selama daya dukung lingkungan di 108 DAS kritis tersebut belum dipulihkan, pola mitigasi bencana akan terus bersifat reaktif dan berulang. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menilai pemulihan bentang alam dan restorasi ekosistem menjadi kunci untuk memutus siklus banjir serta bencana hidrometeorologi yang terus terjadi.
“Selama daya dukung lingkungan di DAS tersebut belum dipulihkan, mitigasi bencana akan terus bersifat darurat dan repetitif,” ujar Abdul Muhari saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menekankan bahwa rehabilitasi DAS harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang dalam kebijakan penanggulangan bencana nasional. Tanpa perbaikan menyeluruh, bencana dikhawatirkan terus menjadi rutinitas tahunan yang menguras sumber daya dan memperluas kerusakan lingkungan.
BNPB memetakan sejumlah DAS prioritas di Pulau Jawa yang masuk kategori kritis, antara lain:
Selain sungai besar tersebut, DAS kecil di kawasan perkotaan dan wilayah padat penduduk juga memerlukan perhatian serius karena berkontribusi terhadap peningkatan risiko banjir lokal.
Di Jawa Tengah, persoalan diperparah oleh infrastruktur pengendali banjir yang menua dan mengalami penurunan fungsi. Tanggul sungai di Demak dan sekitarnya dinilai tidak lagi optimal dalam menghadapi lonjakan debit air saat cuaca ekstrem.
“Beberapa tanggul bahkan masih berupa struktur tanah yang dibangun sejak zaman kolonial, sehingga rentan jebol saat debit air meningkat,” tambahnya.
BNPB mencatat sejumlah tantangan utama dalam pengelolaan DAS kritis, meliputi:
Menurut BNPB, rehabilitasi DAS dan restorasi ekosistem membutuhkan waktu panjang, diperkirakan 15 hingga 20 tahun untuk memulihkan fungsi ekologis secara optimal. Proses ini mencakup pemulihan tutupan vegetasi, penguatan tata kelola air, hingga peningkatan kualitas tanah di wilayah hulu dan hilir.
“Melalui langkah rehabilitasi yang komprehensif dan perbaikan infrastruktur air, kami berharap mitigasi bencana di masa depan tidak lagi didominasi oleh pola tanggap darurat, melainkan berbasis pada solusi permanen,” pungkasnya.
Strategi rehabilitasi DAS kritis tersebut menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana berbasis lingkungan, terutama di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada wilayah rawan banjir di berbagai daerah Indonesia, sehingga penguatan kebijakan jangka panjang menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem penanggulangan bencana nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gladi kotor HUT ke-81 RI digelar di Istana Merdeka. Sebanyak 81 pesawat dan helikopter mengikuti latihan demo udara.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.
DPRD Kulonprogo meminta Pemkab menyiapkan solusi permanen kekeringan, termasuk pemetaan wilayah dan pembangunan sumber air alternatif.
BPKAD Kota Jogja mengembangkan SIAP, sistem pengingat digital untuk mendorong penarikan APBD tepat waktu dan mencegah penumpukan.
Iran menolak menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, aset, dan gencatan senjata.
Ford Australia tarik 13.907 unit Ranger karena side curtain airbag berisiko gagal mengembang. Pengiriman dan test drive dihentikan sementara. Perbaikan gratis m