Anak Gajah Yuna Mati Diduga Terinfeksi Virus EEHV di Aceh
Anak gajah Yuna mati di PLG Saree Aceh diduga terinfeksi EEHV. BKSDA Aceh melakukan deteksi dini terhadap gajah anakan lainnya.
Virus - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, NEW DELHI—Pemerintah India membantah kabar yang menyebut adanya lima kasus Virus Nipah di Benggala Barat, seusai Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga menegaskan bahwa hingga kini hanya dua kasus yang terkonfirmasi secara resmi.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meredam spekulasi yang berkembang di media dan memastikan publik memperoleh informasi akurat terkait Virus Nipah di India.
Dalam pernyataan tertulis pada Selasa (28/1/2026), kementerian menyebut sejumlah media menyebarkan angka spekulatif dan tidak akurat mengenai penyakit Virus Nipah (NiVD). Berdasarkan laporan National Centre for Disease Control (NCDC), sejak Desember tahun lalu hingga kini hanya dua kasus terkonfirmasi yang tercatat di Benggala Barat.
Kementerian menegaskan pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian telah mengambil seluruh langkah kesehatan masyarakat yang diperlukan di wilayah terdampak. Upaya itu mencakup penguatan pengawasan epidemiologis serta peningkatan kapasitas pemeriksaan laboratorium.
Sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien terkonfirmasi telah diidentifikasi, ditelusuri, dipantau, dan menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Hingga saat ini, seluruh kontak yang berhasil dilacak tidak menunjukkan gejala dan hasil tes mereka negatif untuk Virus Nipah,” kata kementerian tersebut.
Otoritas kesehatan India mengimbau masyarakat hanya mengandalkan informasi resmi dan terverifikasi dari pemerintah terkait perkembangan Virus Nipah.
“Belum ada tambahan kasus Virus Nipah yang terdeteksi sejauh ini,” tegas kementerian itu.
Klarifikasi ini muncul seusai sebuah laporan surat kabar Independent pekan lalu menyebut otoritas India tengah berupaya menahan wabah Virus Nipah mematikan yang diduga menginfeksi lima orang, sementara sekitar 100 orang lainnya dikarantina.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Virus Nipah sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia, dengan tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum tersedia pengobatan maupun vaksin khusus.
Virus Nipah terutama ditularkan oleh kelelawar buah atau kalong. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui konsumsi buah atau produk makanan yang terkontaminasi air liur hewan terinfeksi, serta dapat terjadi melalui hewan domestik.
India sebelumnya melaporkan empat wabah Virus Nipah, masing-masing di Benggala Barat pada 2001 dan 2007, serta di Negara Bagian Kerala pada 2018 dan 2019, yang mendorong pemerintah meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap penyakit zoonosis ini dan memperkuat sistem respons kesehatan publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Anak gajah Yuna mati di PLG Saree Aceh diduga terinfeksi EEHV. BKSDA Aceh melakukan deteksi dini terhadap gajah anakan lainnya.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.
DPRD Kulonprogo meminta Pemkab menyiapkan solusi permanen kekeringan, termasuk pemetaan wilayah dan pembangunan sumber air alternatif.
BPKAD Kota Jogja mengembangkan SIAP, sistem pengingat digital untuk mendorong penarikan APBD tepat waktu dan mencegah penumpukan.
Iran menolak menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, aset, dan gencatan senjata.
Ford Australia tarik 13.907 unit Ranger karena side curtain airbag berisiko gagal mengembang. Pengiriman dan test drive dihentikan sementara. Perbaikan gratis m