Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp507 Triliun, Kongres Soroti Anggaran

Newswire
Newswire Rabu, 13 Mei 2026 03:17 WIB
Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp507 Triliun, Kongres Soroti Anggaran

Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Amerika Serikat disebut telah menghabiskan hampir 29 miliar dolar AS atau sekitar Rp507 triliun untuk membiayai operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah pada Februari 2026. Nilai tersebut terus meningkat seiring meluasnya operasi militer dan tingginya biaya pemeliharaan pasukan di lapangan.

Besarnya anggaran perang AS-Iran itu diungkap Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan Amerika Serikat, Jules W. Hurst III, dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan DPR AS pada Selasa (12/5/2026).

Hurst menjelaskan estimasi terbaru biaya perang meningkat dibanding laporan sebelumnya yang berada di angka 25 miliar dolar AS. Kenaikan dipicu kebutuhan perbaikan alat utama sistem persenjataan, penggantian perlengkapan militer, hingga biaya operasional pasukan selama konflik berlangsung.

“Pada saat kesaksian sebelumnya, jumlahnya 25 miliar dolar AS. Namun tim gabungan staf dan pengawas anggaran terus memperbarui estimasi itu, dan sekarang kami perkirakan mendekati 29 miliar dolar AS. Hal ini karena biaya perbaikan dan penggantian peralatan, serta biaya operasional umum untuk menjaga pasukan di lapangan,” kata Hurst.

Jika dikonversikan dengan kurs Rp17.500 per dolar AS, total biaya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran mencapai sekitar Rp507 triliun.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai memanas sejak 28 Februari 2026 ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil.

Iran kemudian membalas melalui serangan balasan yang memicu eskalasi di kawasan Timur Tengah. Situasi itu sempat mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Ketegangan di kawasan tersebut turut memicu lonjakan harga energi global dan menambah tekanan terhadap perekonomian dunia. Sejumlah negara juga mulai mengkhawatirkan dampak berkepanjangan dari konflik AS-Iran terhadap stabilitas perdagangan internasional dan distribusi energi.

Pemerintahan Presiden Donald Trump selanjutnya memperluas operasi militer dengan alasan menjaga keamanan regional sekaligus menekan kemampuan militer Iran. Washington juga menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kapasitas ekonomi dan pertahanan Teheran.

Hurst menegaskan biaya perang diperkirakan masih terus bertambah apabila konflik berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut membuat pemerintah AS menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar, sementara Kongres mulai menuntut transparansi penggunaan anggaran pertahanan dalam operasi militer di Iran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online