Mundur dari Kepengurusan Golkar, Jusuf Hamka: Partai Politik Terlalu Keras dan Kasar

Newswire
Newswire Senin, 12 Agustus 2024 13:17 WIB
Mundur dari Kepengurusan Golkar, Jusuf Hamka: Partai Politik Terlalu Keras dan Kasar

Jusuf Hamka, konglomerat di balik Tol Getaci yang akan tembus Tol Jogja Solo. - JIBI/Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA—Pengusaha sekaligus anggota Dewan Penasihat Partai Golkar Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun menyatakan mundur dari kepengurusan partai  belambang pohon berngin itu. Surta pengunduran itu ia antarkan sendiri ke kantor DPP Partai Golkar di Slipi, Jakarta Barat, Senin (12/8/2024).

Dari pantauan di lokasi, terlihat Babah Alun yang menggunakan kemeja berwarna biru tua datang ke kantor DPP sekitar pukul 10.03 WIB.

"Saya serahkan surat dulu ya, nanti kita ngobrol (wawancara)," kata Babah Alun kepada awak media.

Babah Alun mengaku akan menyerahkan surat tersebut kepada Sekjen Partai Golkar.

Babah Alun pun langsung masuk ke lift untuk naik ke lantai atas gedung.

Sebelumnya, Babah Alun mengatakan bahwa dia mundur dari kepengurusan Partai Golkar dan pencalonan kepala daerah pada Pilkada 2024.

"Betul, betul, betul," kata Babah Alun saat dihubungi dari Jakarta, Minggu.

Diungkapkan bahwa pengunduran dirinya tersebut belum diinformasikan kepada pihak partai. Walaupun demikian, pada hari Senin (12/8) akan memasukkan surat pengunduran diri secara resmi ke DPP Partai Golkar.

BACA JUGA: Sebut Airlangga Mundur karena Terzalimi, Jusuf Hamka Ikut-ikutan Mengundurkan Diri dari Golkar

"Iya, saya akan ketemu Sekjen. Saya akan sampaikan surat-surat. Jadi, pencalonan saya, baik di Jakarta pun saya kembalikan, baik di Jawa Barat saya kembalikan. Padahal, hasil survei saya lumayan, di bawah Kang Emil (mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil)," ujarnya.

Babah Alun mengatakan bahwa pengunduran dirinya tersebut karena menurutnya politik terlalu keras dan kasar.

"Tidak pantas dengan karakter saya, tidak pantas, dan saya lihat dengan Airlangga mundur ini satu momentum karena Airlangga mundur pasti ada satu alasan besar, yang kita enggak tahu. Akan tetapi, buat saya, ya saya cukup tahu dan saya cukup mengerti, saya tidak ingin main kasar dan saya tidak ingin main keras," jelasnya.

Walaupun demikian, dia menampik bahwa momentum mundur yang diambilnya disebabkan pengunduran diri Airlangga sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

"Momentumnya saya pas bersamaan. Akan tetapi, kalau mundurnya niatnya sudah mulai dari Juli kemarin, tetapi pas momentumnya aja," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online