Pemerintah Gulirkan Gerakan Stop Boros Pangan untuk Kurangi Impor

Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina Selasa, 30 Juli 2024 16:57 WIB
Pemerintah Gulirkan Gerakan Stop Boros Pangan untuk Kurangi Impor

Nasi Kotak - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pangan Nasional (Bapanas) optimistis Indonesia bisa setop impor beras dengan mengurangi sampah makanan (food waste). Gerakan Stop Boros Pangan dianggap jadi kunci.

Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah makanan terbuang setiap tahunnya kurang lebih mencapai 30%. Menurutnya, jumlah makanan terbuang itu semestinya bisa digunakan untuk makan bagi 60 hingga 125 juta jiwa. "Oleh karena itu kita melakukan program Stop Boros Pangan," ujar Edhy di Jakarta, dikutip Selasa (30/7/2024).

BACA JUGA : Gunungkidul Siapkan 2 Ton Beras untuk Pasar Murah di Kalurahan

Edhy mengatakan, apabila Indonesia bisa mengurangi sampah makanan hingga 20% khususnya untuk nasi, diperkirakan bisa menghemat hingga 6 juta ton beras setiap tahunnya. Contohnya beras, kebutuhan beras nasional di angka 31 juta ton per tahun, rata-rata masyarakat Indonesia membutuhkan 2,6 juta ton per bulan. "Kalau kita bisa hemat 20% kita bisa menghemat sekitat 6 juta ton, itu luar biasa bisa memberi makan kepada sekitar 60-80 juta jiwa," katanya.

Lewat gerakan stop boros pangan dengan mengurangi sampah makanan, kata Edhy, Indonesia bisa bebas dari impor beras. Adapun, sudah dua tahun belakangan Indonesia harus mengimpor jutaan beras untuk memenuhi kebutuhan hingga cadangan pangan dalam negeri.

"Artinya bahwa kalau kita bisa berhemat 20% saja misalnya beras, maka impor tidak perlu dilakukan. Itu yang harus kita pahami," katanya. Untuk diketahui, pemerintah pada 2024 mengalokasikan kuota impor pangan sebanyak 3,6 juta ton. Adapun, Perum Bulog mencatat, realisasi impor beras terbaru mencapai 2,5 juta ton yang sebagian besar diimpor.

Produksi yang anjlok hingga kebutuhan yang tinggi untuk program bantuan pangan dianggap jadi alasan pemerintah memutuskan untuk mengimpor beras. Berdasarkan catatan Bisnis.com, Senin (24/6/2024), Deputi III KSP, Edy Priyono mengakui, bahwa produksi beras dalam negeri mengalami kondisi kritis.

Pada Januari - April 2024 produksi beras nasional tercatat sebanyak 10,27 juta ton mengalami penurunan hampir 2 juta ton dibandingkan produksi beras pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 12,98 juta ton.

BACA JUGA : Jokowi Minta Vietnam Dukung Kelancaran Impor Beras ke Indonesia

"Ini penurunan yang sangat besar, implikasinya surplus pada Januari-April jauh berkurang, dari sebelumnya 2,82 juta ton menjadi 0,67 juta ton [tahun ini]. Kemungkinan kita bulan depan akan mulai defisit," ujar Edy dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Senin (24/6/2024).

Produksi beras yang anjlok pada tahun ini tak lepas dari adanya penyusutan luas panen padi. Pada periode Januari - April 2023, luas panen padi tercatat mencapai 4,2 juta hektare, sedangkan luas panen tahun ini di periode yang sama hanya 3,5 juta hektare.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online