Kemensos Jaring 600 Anak Jalanan Masuk Sekolah Rakyat
Kemensos menjaring ratusan anak jalanan di Jabodetabek untuk mengikuti program Sekolah Rakyat gratis milik pemerintah.
Kekerasan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, MAKASSAR—Sebanyak empat orang pelaku penganiayaan siswa SMPN 55 Barombong berinisial MFP (14) ditangkap di Jalan Taman Saul Tanah, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
"Ada empat pelaku dan semua di bawah umur. Mereka diamankan di rumahnya masing-masing," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar Komisaris Polisi Devi Sudjana di Makassar Rabu (24/4/2024).
Dari keterangan pelapor MFP, kejadian berawal saat korban pulang dari sekolah pada Senin (22/4), kemudian tiba tiba didatangi para pelaku berjumlah enam orang. Mereka langsung menganiaya korban dengan cara menendang dan memukul.
Dari hasil interogasi, empat pelaku ini mengakui telah menganiaya korban dengan cara menendang dan memukulnya. Hal tersebut berdasar dari rekaman kamera pengawas (CCTV) milik warga di lokasi kejadian.
Rekaman CCTV aksi penganiayaan itu diamankan polisi sebagai barang bukti, juga seragam yang dikenakan korban. Kasus ini diserahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestabes Makassar.
Baca Juga
Tiga Remaja Perkosa 2 Gadis di Bawah Umur
Dua Hal Ini Jadi Penyebab Kasus Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan di Bantul Tinggi
Pelaku Kekerasan Anak Cenderung Punya Gangguan Kesehatan Mental
Kepala Sub-Unit 1 Lidik IV Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar Inspektur Polisi Dua Rahmatia mengatakan para pelaku sudah berada di Polrestabes Makassar dan sedang menjalani pemeriksaan khusus anak berkonflik dengan hukum.
"Kekerasan terhadap anak ini pelakunya ada empat orang, tetapi lima di sini. Satu itu saksi tidak melakukan (pemukulan), jadi dia sebagai saksi inisialnya F. Korban inisial MFP, kejadian pada pukul 10.00 Wita tanggal 22 April 2024," tuturnya.
Dari empat orang pelaku tersebut, tiga orang berstatus pelajar dan satu orang lainnya tidak sekolah. Mereka masing-masing berinisial SW (17), RN (15), FT (14) dan RZ (14).
Untuk motifnya adalah balas dendam sebab salah satu terlapor diduga sering dipalak korban, kemudian mengadu ke temannya. Mereka berteman empat orang kemudian ingin balas dendam dan saat itulah waktu kejadiannya.
"Berawal dari situ karena memang dia sering dipajaki (dipalak) diejek-ejek sehingga itu yang membuat tambah marah ini temannya, kesal hingga terjadi penganiayaan secara bersama sama," tutur Rahmatia.
Sedangkan untuk kondisi korban, sementara ini telah diambil keterangannya dan sudah bisa beraktivitas. Sedangkan untuk hasil visum dari rumah sakit belum diterima polisi.
Kendati pelakunya masih berstatus anak, lanjut Rahmatia, tetap diproses sesuai aturan anak berhadapan hukum dan harus dikedepankan proses hukumnya.
"Tetap kita terapkan sama pelaku dewasa, pelaku anak tetap sama pasal yang diterapkan juga sama di Pasal 80 KUHP, kemudian ancaman hukuman tiga tahun enam bulan penjara. Cuma kalau anak berhadapan dengan hukum, kita terapkan peradilan anak, tetap kita kedepankan itu," ujarnya menekankan
"Kemudian, ini untuk kepentingan terbaik buat anak, ada hak-hak anak tetap kita kedepankan. Kita tunggu hasilnya karena mereka pasti ada pendamping dari Bapas, itu yang kami belum menyurat lagi ke Bapas. Menunggu hasil semuanya itu, baru kami lakukan untuk RJ-nya (restoratif justice)," katanya menambahkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemensos menjaring ratusan anak jalanan di Jabodetabek untuk mengikuti program Sekolah Rakyat gratis milik pemerintah.
Shakira memenangkan kasus pajak di Spanyol setelah delapan tahun. Pengadilan memerintahkan pengembalian dana Rp1,1 triliun.
Arema FC memburu kemenangan atas PSIM Jogja pada laga terakhir Super League 2025/2026 demi memperbaiki posisi klasemen.
MotoGP Catalunya 2026 diwarnai penalti tekanan ban yang membuat Joan Mir kehilangan podium dan mengubah klasemen sementara.
Pemkot Jogja mulai menyiapkan guru dan menggandeng kampus menyambut kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD mulai 2027.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.