Gempa Sukabumi M4,5 Dipicu Sesar Aktif Bawah Laut

Newswire
Newswire Senin, 18 Mei 2026 13:47 WIB
Gempa Sukabumi M4,5 Dipicu Sesar Aktif Bawah Laut

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, SUKABUMI—Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,5 mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (17/5/2026) malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa Sukabumi tersebut dipicu aktivitas sesar aktif bawah laut.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa berada pada koordinat 7,53 derajat Lintang Selatan dan 106,72 derajat Bujur Timur. Titik gempa berlokasi di wilayah Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 28 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif bawah laut,” kata Teguh dalam keterangan yang diterima di Bandung, Senin.

Gempa bumi Sukabumi terjadi sekitar pukul 22.15 WIB dan dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi dengan skala intensitas III MMI. Pada skala tersebut, getaran terasa nyata di dalam rumah dan menyerupai getaran saat truk besar melintas.

Meski guncangan sempat dirasakan masyarakat, BMKG menyatakan hingga kini belum menerima laporan mengenai kerusakan bangunan maupun dampak signifikan lainnya akibat gempa tersebut.

BMKG juga memastikan belum terjadi gempa susulan setelah guncangan utama. Berdasarkan hasil pemantauan hingga pukul 22.42 WIB, aktivitas seismik lanjutan belum terdeteksi di wilayah tersebut.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. BMKG meminta warga mengikuti perkembangan informasi gempa bumi Sukabumi melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.

Teguh mengingatkan agar masyarakat memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.

Mitigasi gempa bumi merupakan langkah krusial untuk meminimalkan risiko keparahan dampak melalui tiga tahapan utama. Sebelum bencana, fokus terletak pada penyiapan struktur bangunan yang kokoh, penyusunan rencana evakuasi, serta penyediaan tas siaga bencana.

Saat guncangan terjadi, masyarakat diimbau tetap tenang dan menerapkan prinsip drop, cover, and hold on (merunduk, berlindung, dan berpegangan) atau segera menuju area terbuka yang aman. Setelah gempa reda, kewaspadaan harus tetap dijaga terhadap potensi gempa susulan dan risiko korsleting listrik, sembari terus memantau informasi resmi dari BMKG guna menghindari disinformasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online