Laba Taspen Turun 16,1 Persen Jadi Rp1,04 Triliun, Ini Penyebabnya
Laba Taspen 2025 turun menjadi Rp1,04 triliun. Hasil investasi Rp9,87 triliun menjadi penopang di tengah penurunan pendapatan iuran.
Vaksin Pfizer dan BionTech
Harianjogja.com, JAKARTA – CEO Pfizer, Albert Bourla menyebut efektivitas vaksin Covid-19 Pfizer terus menurun dari waktu ke waktu, hingga turun menjadi sekitar 84 persen setelah empat hingga enam bulan setelah seseorang mendapatkan dosis kedua.
Pernyataannya yang dibuat pada Rabu (28/7/2021) itu, didasarkan pada temuan studi baru yang didanai perusahaan yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.
Penelitian dilakukan ketika Pfizer menyatakan perlunya dosis vaksin Covid ketiga untuk meningkatkan perlindungan kekebalan.
Studi ini menemukan efektivitas vaksin paling kuat, pada 96,2 persen, antara satu minggu dan dua bulan setelah menerima dosis kedua.
Efektivitasnya kemudian menurun rata-rata 6 persen setiap dua bulan, menurut penelitian. Penelitian dilakukan pada lebih dari 44.000 orang di seluruh AS dan negara-negara lain yang menerima vaksin tersebut.
"Kemanjuran setelah "empat sampai enam bulan adalah sekitar 84 persen," kata Bourla seperti dilansir dari CNBC, Kamis (29/7/2021).
Mereka juga melihat data dari Israel bahwa ada penurunan kekebalan, yang mulai berdampak pada kasus rawat inap.
Ini membuat Bourla sangat-sangat yakin bahwa dosis ketiga, booster, akan mengambil respons imun ke tingkat yang cukup untuk melindungi dari varian delta, strain dominan yang kini ada di AS dan negara-negara lain di seluruh dunia.
Pada pertengahan Agustus, Pfizer berencana menyerahkan data kepada regulator AS tentang manfaat dosis vaksin Covid ketiga.
Awal bulan ini, ketika Pfizer pertama kali mengumumkan rencananya, Food and Drug Administration (FDA)dan Centers for Disease Control and Prevention mengeluarkan pernyataan “Orang Amerika yang telah divaksinasi sepenuhnya tidak memerlukan suntikan tambahan."
CDC dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan suntikan booster Covid saat ini.
Dr Kate O\'Brien, direktur imunisasi, vaksin dan biologi WHO, mengatakan pada hari Rabu (28/7/2021) bahwa organisasi tersebut masih meneliti apakah suntikan booster diperlukan untuk meningkatkan perlindungan. Saat ini, O’Brien menambahkan tidak ada informasi yang cukup untuk memberikan rekomendasi suntikan booster Covid.
“Sekali lagi, ini adalah topik yang sangat hangat, dan ada banyak penelitian yang dapat memberikan rekomendasi berbasis bukti.” kata O\'Brien dalam wawancara tanya jawab yang diposting di akun media sosial organisasi tersebut.
Hasil penelitian yang didukung Pfizer muncul sehari setelah CDC kembali memakai masker untuk mereka yang sudah disuntik vaksin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Laba Taspen 2025 turun menjadi Rp1,04 triliun. Hasil investasi Rp9,87 triliun menjadi penopang di tengah penurunan pendapatan iuran.
Konflik AS dan Iran meluas ke Suriah dan Bahrain. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 11% dalam sepekan di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Radar GCI pertama Indonesia di Banjarbaru mampu mendeteksi objek hingga 515 kilometer dan memperkuat pengawasan ruang udara nasional secara real time.
Ekspor daun cincau kering Jawa Tengah mencapai 403 ton hingga Juni 2026 dan dipasarkan ke Thailand, Malaysia, Tiongkok, serta Kamboja.
Giri Sembung di Kulonprogo akan diperkenalkan sebagai spot paralayang baru di Pulau Jawa melalui Kejurnas Paralayang Cakrawala Nusantara Seri I 2026.
SMPN 4 Pakem menjadi sekolah pertama di Indonesia yang menerapkan program WiSe bersama TMH.id untuk membangun ekosistem kesehatan mental.