Bahlil Siapkan Skema Dana Bioetanol, E10 Dimulai pada 2027
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberi vaksin Covid-19 pada mantan menteri kesehatan Palestina Jawad Tibi di Kota Gaza, Palestina (22/2/2021)./Antara-Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA - Virus Corona varian Delta membuat banyak negara waspada. Negara yang sudah memvaksin sebagian besar warganya pun mengalami kenaikan kasus Covid-19 akibat varian tersebut.
Dilansir CNBC, ada enam negara yang tercatat memiliki kenaikan kasus yang cukup signifikan meski vaksinasi sudah tinggi. Dari enam negara itu, 5 diantaranya mengandalkan vaksin buatan China.
Keenam negara itu yakni Uni Emirat Arab, Seychelles, Mongolia, Uruguay, dan Chili. Negara yang tidak bergantung pada vaksin China adalah Inggris.
Inggris juga menggunakan vaksin Moderna, AstraZeneca-Oxford, Pfizer-BioNTech dan Janssen.
Data ini berdasarkan laporan dari 36 negara, dengan lebih dari 1.000 kasus mingguan baru menggunakan angka dari Our World in Data yakni mengumpulkan informasi dari sumber termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah, Universitas Oxford, dan dikonfirmasi per juta orang pada 6 juli. Kemudian, CNBC mengidentifikasi negara-negara di antara 36 negara dengan lebih dari 60% populasinya, yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.
Peningkatan kasus ini membuat orang mempertanyakan efikasi vaksin yang dianggap tidak bisa menawarkan perlindungan 100%.
Meski demikian, ahli epidemiologi, dengan melihat kondisi pasokan vaksin yang terbatas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menyerukan negara-negara tidak boleh berhenti menggunakan vaksin Covid-19 dari China.
Banyak beberapa negara dan wilayah berkembang yang juga menyetujui vaksin Sinopharm, dan Sinovac, terutama negara yang tidak dapat bersaing dengan negara-negara kaya untuk mendapatkan vaksin yang dikembangkan di Amerika Serikat dan Eropa.
Meski ada juga beberapa negara yang menghindari vaksin China seperti Kosta Rika, yang menyimpulkan tidak cukup efektif.
Organisasi Kesehatan Dunia, yakni WHO, menyetujui vaksin dari Sinopharm dan Sinovac untuk penggunaan darurat. Efektivitas kedua vaksin China ini lebih rendah daripada Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang keduanya telah menunjukkan kemanjuran lebih dari 90%.
Untuk Sinopharm, WHO mengatakan bahwa vaksin tersebut memiliki kemanjuran 79% terhadap infeksi Covid bergejala, namun efektivitasnya cukup bergantung pada kelompok-kelompok tertentu. Suntikan Sinovac memiliki kemanjuran sekitar 50% hingga lebih dari 80%, dan tergantung pada negara tempat uji coba dadakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Pendapatan transfer Kulonprogo turun Rp114,66 miliar pada APBD Perubahan 2026. DPRD meminta Pemkab mengubah strategi fiskal.
Sejumlah investor menggugat Selena Gomez terkait startup kesehatan mental Wondermind. Mereka menuding ada penyesatan informasi bisnis dan menuntut pengembalian
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berdampak pada orang yang mengonsumsinya, tetapi juga dapat menyeret keluarga hingga lingkungan sekitar.
Polresta Cilacap mengungkap dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dengan 24 korban selama 11 tahun. Polisi membuka posko pengaduan.
Piala AFF 2026 memasuki fase semifinal! Singapura vs Thailand dan Malaysia vs Vietnam. Thailand lolos dengan nilai sempurna, Vietnam juara Grup A. Cek jadwal le