Menlu Retno Sebut Situasi di Myanmar Kian Mengkhawatirkan

Nindya Aldila
Nindya Aldila Rabu, 03 Maret 2021 04:27 WIB
Menlu Retno Sebut Situasi di Myanmar Kian Mengkhawatirkan

Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP/Getty Images-Sai Aung Main

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan keadaan Myanmar sudah mengkhawatirkan.

Menlu Retno menegaskan hal itu dalam pertemuan khusus menteri luar negeri Asean dan perwakilan Myanmar pada Selasa (2/3/2021).

Hal tersebut disampaikan Menlu Retno sebagai desakan kepada pihak militer Myanmar untuk menahan diri seiring dengan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang dilakukan pasukan pengaman hingga menewaskan 18 orang dan puluhan orang terluka.

BACA JUGA : Myanmar Dikecam Setelah 2 Orang Tewas dalam Unjuk Rasa

“Situasi ini sangat mengkhawatirkan. Mengkhawatirkan karena meningkatnya jatuhnya korban warga sipil, yang harus kehilangan nyawa dan mengalami luka-luka. Mengkhawatirkan karena masih terus terjadinya penangkapan terhadap warga sipil,” ujar Menlu Retno.

Menlu Retno juga mengungkapkan situasi yang terjadi saat ini dapat mengancam keberlangsungan transisi demokrasi di internal Myanmar hingga perdamaian dan keamanan kawasan.

Melalui video conference, Selasa (2/3/2021) sore Menlu Retno bersama sembilan menlu Asean lainnya bertemu secara khusus untuk membahas perkembangan situasi di Myanmar. 

Pertemuan ini dilakukan setelah Indonesia terus melakukan konsultasi ke negara-negara dalam kunjungan ke Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand serta komunikasi intensif secara informal.

BACA JUGA : Ini Sikap Indonesia atas Kudeta Militer di Myanmar

Dalam pertemuan tersebut Menlu Retno mengungkapkan tiga isu utama yakni:

Pertama, pentingnya keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Myanmar menjadi prioritas nomor satu.

“Indonesia juga menekankan pentingnya akses kemanusiaan bagi semua orang yang memerlukan termasuk para tahanan politik. Indonesia yakin Asean akan dapat memainkan peran di dalam membantu keperluan kemanusiaan,” ungkapnya.

Kedua, pentingnya menghormati keinginan, kepentingan dan suara rakyat Myanmar untuk mewujudkan demokrasi. Ketiga, perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan kawasan harus terus dijaga. Indonesia menekankan bahwa semua negara anggota Asean wajib menjaga situasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, pergolakan politik di Myanmar semakin memanas sejak unjuk rasa antikudeta. Unjuk rasa dilakukan atas dakwaan tambahan terhadap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi yang dapat membuatnya terkurung di penjara untuk waktu lebih lama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online