Wajib Halal Kosmetik Diminta Ditunda, UMKM Dinilai Belum Siap
Pelaku industri kosmetik meminta wajib halal Oktober 2026 ditunda satu tahun karena kesiapan UMKM dan sertifikasi bahan baku impor masih menjadi tantangan.
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat antibodi virus corona di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Harianjogja.com, JAKARTA - Para ilmuwan Center for Infection and Immunity (CII) di Columbia University Mailman School of Public Health dan Sun Yat-Sen University di China menyiapkan tahap pengembangan tes antibodi yang sangat sensitif untuk semua infeksi virus corona, termasuk varian baru dari SARS-CoV-2.
Tes ini juga harus memungkinkan diferensiasi respon imun akibat infeksi virus corona dan vaksinasi. Penelitian yang dipublikasi di Jurnal Nature ini merangkai HCoV-Peptida yang terdiri dari 3 juta penanda kekebalan pada chip kaca, mencakup protein dari semua jenis virus corona. Bekerja sama dengan tim di Sun Yat-Sen University, para peneliti CII mengidentifikasi 29 tanda kekebalan khusus untuk SARS-CoV-2.
BACA : Ke Jogja Harus Bawa Hasil Rapid Antigen, Apa Bedanya
Sidik jari genetik (peptida) ini memberikan cetak biru untuk tes yang akan digunakan pada diagnostik dan pengawasan. Peneliti menilai tes antibodi terkini untuk infeksi SARS-CoV-2 dapat menghasilkan hasil positif palsu karena reaktivitas silang dengan virus corona musiman penyebab flu biasa, MERS-CoV, dan SARS-CoV-1.
Untuk mengembangkan rangkaian HCoV-Peptide, para peneliti pertama-tama menganalisis sampel darah yang diambil dari individu dengan infeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala, ringan, atau parah, termasuk individu sehat, dan mereka yang terpapar SARS-CoV-1 dan virus corona musiman.
Dari semua analisis, 170.000 peptida terkait dengan virus corona manusia yang diketahui menghasilkan 29 peptida dengan reaktivitas terkuat dan paling spesifik dengan SARS-CoV-2. Selanjutnya, mereka memvalidasi tes menggunakan set sampel darah kedua, termasuk dari kasus SARS-CoV-2 yang dikonfirmasi, yang memiliki antibodi terhadap virus corona manusia lainnya, dan individu yang sehat.
BACA JUGA : Ini Perbedaan Harga Rapid Test Antigen, Rapid Test Antibodi
Tes baru ini memiliki spesifisitas dan sensitivitas 98 persen. Tanda tangan kekebalan muncul dari delapan hari setelah timbulnya gejala Covid-19 hingga enam hingga tujuh bulan setelah infeksi.
"Pekerjaan ini akan memungkinkan kita dan orang lain untuk membuat tes darah yang murah dan mudah digunakan, yang dapat memberikan data untuk paparan serta kekebalan," ujar Asisten Profesor Epidemiologi di Columbia Mailman School Nischay Mishra, salah satu penulis penelitian ini, dikutip dari Medical Xpress, Rabu (17/2/2021).
Sebelumnya, para peneliti telah menggunakan metode serupa untuk mengembangkan tes Zika, myelitis lembek akut, dan infeksi yang ditularkan melalui kutu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Pelaku industri kosmetik meminta wajib halal Oktober 2026 ditunda satu tahun karena kesiapan UMKM dan sertifikasi bahan baku impor masih menjadi tantangan.
Sebanyak 34 PPPK Paruh Waktu Gunungkidul tidak mendapat kontrak baru. Pemkab menyebut sejumlah alasan, mulai dari pelanggaran disiplin hingga pensiun.
Veda Ega Pratama naik ke posisi ketujuh klasemen Moto3 2026 usai finis keenam di Mandalika dengan koleksi 115 poin.
Kekeringan melanda SDN Jatiroto Girimulyo, Kulonprogo. Siswa membawa air dari rumah hingga Pemkab dan Baznas menyalurkan bantuan.
Kapal tanker terbakar setelah dihantam proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. Seluruh awak dilaporkan selamat, sedangkan penyebab insiden diselidiki.
Indonesia memulangkan 30.190 koleksi Dubois dan 20 benda budaya dari Belanda, termasuk temuan Homo erectus dan artefak bersejarah.