Daftar Harga BBM Terbaru 23 Juli 2026 di Pertamina, Shell, BP, Vivo
Daftar harga BBM terbaru 23 Juli 2026 di Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo. Dexlite, Pertamina Dex, serta Pertamax Turbo turun.
Awan lenticularis di atas Gunung Merbabu./Solopos
Harianjogja.com, JOGJA - Awan unik tampak di langit beberapa gunung di Pulau Jawa, seperti Merapi, Merbabu, Arjuno dan lainnya. Awan tersebut menyerupai piring yang menumpuk di pucuk gunung.
Demi menjawab fenomena alam tersebut, Harian Jogja menghubungi Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas.
Reni menjelaskan fenomena awan menyerupai piring yang menumpuk di pucuk gunung disebut awan lenticularis. Awan tersebut memang kerap muncul di kawasan pegunungan. Bentuknya tak selalu seperti piring. Kadang-kadang, katanya ada pula yang berbentuk menyerupai lensa.
“Awan lenticular terbentuk ketika ada arus angin yang mengalir sejajar dengan permukaan bumi. Ketika di depan angin tersebut terhalang pegunungan maka arus angin tersebut terhambat kemudian mengalir secara vertikal [ke atas] menuju puncak awan,” terang Reni.
Lanjutnya, apabila udara tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, kemudian naik menuju puncak gunung, maka saat tiba pada suhu titik embun terjadi proses kondensasi atau pengembunan yang mengikuti kontur puncak gunung. Kontur gunung itulah yang kemudian menghasilkan awan menyerupai piring atau lensa.
“Saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti. Awan ini mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin [windward side] di puncak gunung kemudian menghilang di sisi turunnya angin [leeward side],” lanjutnya.
Awan lenticularis tak hanya terjadi pada lapisan dekat permukaan bumi. Ketebalan arus udara yang berhembus secara horizontal memiliki lapisan hingga bebeberapa kilometer ke atas. Sehingga, dapat dikatakan bahwa awan lenticularis juga bisa terbentuk di beberapa lapis ketinggian atmosfir.
Reni menegaskan awan lenticularis tak ada hubungannya dengan peningkatan status aktivitas Gunung Merapi. Namun begitu, awan lenticularis justru memiliki pengaruh terhadap akvitas penerbangan. Awan lenticularis dapat dikatakan sebagai tanda keberadaan gelombang gunung. Gelombang tersebut dapat menyebabkan turbulensi terhadap pesawat yang melintas.
“Awan lenticularis berpengaruh terhadap jumlah uap air yang berada di pegunungan. Saat ini sudah masuk musim hujan, sehingga kelembaban udara cenderung lebih basah dibandingkan musim kemarau. Maka demikian, potensi terbentuknya awan lenticularis bisa terjadi,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Daftar harga BBM terbaru 23 Juli 2026 di Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo. Dexlite, Pertamina Dex, serta Pertamax Turbo turun.
Banyumas dan Kota Ipoh Malaysia menjajaki kerja sama pengelolaan sampah melalui pertukaran teknologi dan konsep zero waste to money.
Kuasa hukum Febrie Adriansyah mengungkap sembilan dugaan kejanggalan dalam proses hukum yang ditangani Kejaksaan Agung.
Donald Trump membuka peluang kesepakatan dengan Iran sebelum opsi militer diambil. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz terus meningkat.
PM Thailand Anutin Charnvirakul menawarkan 36 kendaraan lapis baja amfibi AWAV untuk Korps Marinir TNI dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo.
Harga Pertamax turun mulai Agustus 2026, tetapi selisih hampir Rp6.000 per liter dengan Pertalite dinilai masih memicu migrasi ke BBM subsidi.