KPK Sita Uang Rp3,3 Miliar dalam OTT BNPB, Ada Emas dan Aset Kripto
KPK memperbarui nilai uang tunai yang disita dalam OTT BNPB menjadi Rp3,3 miliar. Penyidik juga mengamankan logam mulia dan aset kripto.
Ilustrasi. /REUTERS-Rahel Patrasso
Harianjogja.com, JAKARTA--Salah seorang pengguna Twitter @oktaviamanroe membagikan pengalamannya dalam merawat kedua orangtuanya yang tergolong sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Sempat merasa kacau dan pasrah, wanita ini berterimakasih kepada tenaga kesehatan yang melayani.
Dibagikan sebanyak 2.200 kali, Oktavia menceritakan bahwa yang pertama dirawat adalah ibunya. Dua hari setelah mengikuti wisata bersama perkumpulan ibu-ibu Gereja Sabtu (15/3/2020), ibunya menunjukkan gejala demam. Setelah periksa ke klinik dekat rumah, ibunya diberikan paracetamol, antibiotik dan vitamin.
BACA JUGA : 3 PDP Covid-19 di DIY Meninggal Tanpa Penyakit Penyerta
Setelah lima hari rawat jalan, ibunya tak kunjung membaik, akhirnya memutuskan untuk rawat inap di RSIA Hermina Sabtu (21/3/2020). Ibunya dirawat dengan prosedur cek laboratorium dan rontgen paru. Selama dirawat demamnya turun, namun batuk yang diderita semakin parah dan sesekali sesak nafas.
"Setelah 3 hari, kondisi membaik, karena kami pikir tinggal sisa batuk, kirain udah boleh pulang, ternyata perwakilan keluarga dipanggil dan dijelaskan dokter jaga kalau Ibu pneumonia," tulisnya.
Menurut keterangan rumah sakit, pasien dengan pneumonia harus diisolasi karena diduga Covid-19. Oktavia mengaku tidak kaget tapi sedikit khawatir. Namun, ia tetap percaya pada langkah-langkah yang ditempuh rumah sakit.
Siang itu juga, ibunya dipindah ke ruang isolasi. Oktavia menyebutkan bahwa ibunya sendiri sempat menangis saat akan dipindah dan menanyakan akan dibawa kemana. Selasa (24/3/2020) ibunya lantas dipindah ke Wisma Atlet dengan ambulans rumah sakit.
Ia mengatakan, hari itu masih hari kedua Wisma Atlit dibuka, sehingga masih banyak prosedur yang tidak berjalan baik. Setelah menunggu selama 9 jam, akhirnya ibu Oktavia dipindahkan ke ruang perawatan di lantai lima.
"Tapi dokter-dokter di Wisma baik-baik, saya masih ingat betul dr Max, di balik APD google glassnya yang berembun, masih bisa saya lihat bagaimana matanya dengan sabar menjelaskan bahwa persiapan masih dilakukan di setiap kamar. Ibu boleh masuk UGD dulu sebelum masuk kamar," tulis Oktavia.
BACA JUGA : DIY Tambah 4 Pasien Baru Covid-19, Satu PDP Meninggal
Setelah sepekan mengurus kebutuhan ibunya, Oktavia mengaku kurang perhatian dengan Bapaknnya. Ternyata sang Bapak juga mulai menunjukkan gejala yang sama, demam dan batuk. Sempat dibawa ke klinik, namun setelah tiga hari tidak kunjung membaik, Ia membawa ayahnya ke RS Hermina.
Sempat mengikuti test laboratorium dan rontgen paru, Bapak Oktavia lalu dirawat di UGD. Bapaknya sempat harus menjalani puasa dan tinggal di UGD sebelum pindah ke ruang perawatan. Setelah menjalani rontgen kedua, adiknya diberitahu bahwa bapak mereka masuk dalam kategori PDP berat.
Oktavia mengaku kacau dan sempat menangis kencang di parkiran rumah sakit. Pihak rumah sakit sempat memanggil seluruh keluarga dekat dan menyampaikan penjelasan mengenai tindakan yang akan diambil.
"Saya agak tenang kalau Hermina bakal melakukan yang terbaik selama masih mencari RS rujukan. Walaupun kasih yang terbaik tetap keluarga pasrah kalau ternyata Tuhan berkehendak lain," tulis Oktavia.
Setelah masuk ruang isolasi UGD, bapak Okatvia langsung didaftarkan swab dan diberi tindakan layaknya pasien positif covid-19. Sepuluh hari menjalani perawatan di ruang isolasi, Bapak Oktavia kemudian dipulangkan dengan kondisi belum sembuh sepenuhnya.
Diputuskan pulang karena kondisi ruang isolasi yang dikhawatirkan makin membuat kondisi pria berusia 72 tahun itu stres, karena banyak pasien yang berteriak karena tertekan. Pulang kerumah dengan membawa banyak obat dan kondisi tubuh yang lemas, Oktavia tetap memperlakukan Bapaknya layaknya pasien positif.
Baik alat makan maupun cucian baju dipisahkan dan semua makanan diblender. Selama isolasi di rumah tetap harus kontrol ke rumah sakit sepekan sekali. Tiga pekan kemudian hasil swab keluar dan dinyatakan negatif.
Sementara ibunya pulang setelah menjalani perawatan selama 25 hari di Wisma Atlet. Kepulangan ibunya membuat kondisi bapaknya menjadi lebih baik. Sudah empat bulan berlalu, bapaknya tetap harus kontrol ke rumah sakit untuk mencegah dampak jangka panjang akibat infeksi.
Oktavia merasa bersyukur dan berterimakasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang sudah melayani dan merawat kedua orangtuanya. Dari pengalaman tersebut ia mengaku tidak pernah berfikir bahwa rumah sakit mencari keuntungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
KPK memperbarui nilai uang tunai yang disita dalam OTT BNPB menjadi Rp3,3 miliar. Penyidik juga mengamankan logam mulia dan aset kripto.
Fadli Zon berharap peserta IPCC 2026 membawa budaya Indonesia ke negara masing-masing setelah mengikuti residensi seni di Jogja selama 10 hari.
BMKG memperingatkan potensi gelombang hingga 4 meter pada 15-18 Oktober 2026. Nelayan dan pelaku transportasi laut diminta waspada.
BSU Rp900.000 untuk pekerja periode Oktober–Desember 2026 belum memiliki syarat dan jadwal resmi. Simak kriteria sebelumnya dan cara cek BPJS Ketenagakerjaan.
KPK menetapkan lima tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan dana kebencanaan BNPB. Penyidik menyita uang Rp3,3 miliar dan aset lainnya.
Perumda Aneka Usaha Kulon Progo mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui Manunggal Fair 2026 yang mencatat perputaran uang sekitar Rp7 miliar