Prabowo Sebut Rp700.000, Faktanya Upah Kupas Bawang Cuma Rp2.000
Upah kupas bawang Rp700.000 per kilogram disebut Prabowo. Di Pasar Legi Solo, jasa kupas bawang ternyata sekitar Rp2.000 per kilogram
Ilustrasi jaringan PLN/Bisnis-Paulus Tandi Bone
Harianjogja.com, JAKARTA- Harga listrik di Indonesia dinilai terlalu murah.
Pakar ketenagalistrikan yang merupakan Guru Besar Teknik Elektro ITB Prof Pekik Argo Dahono mengatakan, harga listrik di Pulau Jawa dan umumnya Indonesia terlalu murah yakni rata-rata 8 sen Dollar, sementara yang ideal adalah 10 sen Dollar Amerika Serikat.
"Harga paling ideal rata-rata 10 sen. Harga tersebut tidak harus mengikuti harga listrik di negara maju yang mencapai 15 sen," kata Pekik saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (5/8/2019).
Ia mengatakan harga listrik di Pulau Jawa sudah selayaknya naik, salah satu indikatornya karena tingkat pendapatan penduduknya yang paling tinggi di Indonesia.
Menurut dia, menaikkan tarif listrik merupakan salah satu solusi mengatasi \'black out\' (pemadaman) di Pulau Jawa. Sayangnya kebijakan itu merupakan ranah politik yang tidak populer di kalangan legislatif.
"Menaikkan tarif listrik itu agak susah karena harga listrik ditentukan DPR, sedangkan DPR tidak mau membikin kebijakan yang membuat masyarakat teriak," kata dia.
Menurut dia, harga listrik di Pulau Jawa terlalu murah, padahal dengan harga sedikit lebih mahal dibandingkan dengan pulau lainnya, Jawa bisa lebih \'green\'.
"Green dengan adanya energi terbarukan," katanya.
Ia mengatakan menaikkan tarif listrik tidak merugikan masyarakat, tapi masyarakat sudah terlanjur biasa murah sehingga kalau mahal sedikit menjadi enggan menerima.
"Tapi kalau orang Papua, Maluku disuruh mahal listriknya janganlah," katanya.
Pekik menyebutkan, kebijakan harga listrik yang seragam dari Sabang sampai Merauke menjadi permasalahan.
Harusnya masyarakat di Jawa yang memiliki tingkat ekonomi yang bagus dan daya beli tinggi, hendaknya bersedia dengan biaya listrik sedikit lebih mahal.
"Dengan harga listrik sedikit lebih mahal supaya energi terbarukan bisa masuk," katanya.
Solusi lain mencegah \'black out\' ini adalah menambah jumlah pembangkit untuk Jawa bagian Barat. Karena selama ini wilayah tersebut bergantung pada pembangkit listrik yang ada di wilayah Timur, sehingga setiap saat membutuhkan listrik dari sisi bagian Timur.
Di wilayah Jawa bagian Barat pembangkit listriknya didominasi oleh PLTU. Pemilihan PLTU oleh PLN karena pertimbangan lebih murah, padahal pembangkit jenis ini memiliki banyak kelemahan.
Selain itu, minimnya pembangkit listrik di wilayah Jawa bagian Barat karena terkendala lokasi, sulit mendapatkan izin dan mahalnya harga tanah.
Karena kebutuhan listrik di Jawa bagian Barat cukup besar maka membutuhkan pembangkit yang cukup besar pula. Pembangkit yang ada saat ini berukuran kecil seperti Tanjung Priok dan Muara Karang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Upah kupas bawang Rp700.000 per kilogram disebut Prabowo. Di Pasar Legi Solo, jasa kupas bawang ternyata sekitar Rp2.000 per kilogram
Karhutla Riau mencapai 16.264 hektare. Pemprov Riau menyemai 26 ton garam lewat OMC dan mengerahkan enam helikopter.
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Guru Besar UGM Prof. Priyono Suryanto mendorong tiga transformasi penanganan karhutla, dari respons krisis menuju penjagaan hutan berkelanjutan.
BMKG mencatat 11.869 titik panas di Kaltim pada 1-21 Agustus 2026 dan meminta penguatan mitigasi karhutla menjelang puncak panas.
DPRD Sleman menyoroti pencairan dana JPS yang dinilai perlu dipercepat. Dinsos Sleman mulai menyederhanakan tahapan permohonan bantuan