11.869 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Minta Warga Waspada

Newswire
Newswire Sabtu, 22 Agustus 2026 17:47 WIB
11.869 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Minta Warga Waspada

Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n

Harianjogja.com, BALIKPAPAN— Sebanyak 11.869 titik panas terdeteksi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) selama periode 1-21 Agustus 2026. Kondisi tersebut mendorong BMKG Stasiun Balikpapan meminta semua pihak memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari pencegahan hingga penanganan.

Ketua Tim Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Huda Abshor Mukhsinin mengatakan ribuan titik panas itu tersebar di 10 kabupaten/kota di Kaltim.

"Terdapat 11.869 titik panas di Kaltim yang berhasil dideteksi BMKG selama 1-21 Agustus 2026. Jumlah ini tersebar di 10 kabupaten/kota," ujar Huda di Balikpapan, Sabtu (22/8/2026).

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan titik panas yang terdeteksi pada periode yang sama saat musim kemarau 2015. Ketika itu, BMKG mencatat 9.793 titik panas pada 1-21 Agustus 2015.

El Nino Tahun Ini Lebih Kering

Huda mengatakan peningkatan titik panas tersebut terjadi ketika fenomena El Nino tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi pada musim kemarau serupa pada 2015 lalu.

Karena itu, mitigasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Langkah tersebut mencakup edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla hingga penanganan ketika kebakaran terjadi dengan melibatkan pemerintah, pihak terkait, dan unsur masyarakat.

"Untuk edukasi dan pendekatan, hal mendesak saat ini adalah ajakan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan baik pertanian maupun perkebunan, karena pembakaran berpotensi membakar lahan lain saat terjadi angin kencang," katanya.

Selain pembukaan lahan, masyarakat juga diminta memperhatikan aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Huda mengingatkan agar pembakaran sampah dilakukan secara hati-hati, termasuk bagi pekerja perkebunan maupun orang yang sedang bekerja di hutan agar tidak membuang puntung rokok yang masih membara.

Puntung rokok yang masih menyala dapat membakar daun kering dan berpotensi memicu karhutla. Karena itu, edukasi mengenai pencegahan kebakaran perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Puncak Panas Diprediksi September-Oktober

BMKG meminta ajakan untuk mencegah aktivitas yang dapat memicu karhutla terus dilakukan dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya, periode paling panas di Kaltim diperkirakan belum terjadi pada Agustus.

"Ajakan ini harus terus menerus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan, karena puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan bukan bulan ini saja, tapi masa puncak panas diprakirakan terjadi pada September hingga Oktober, sehingga kemungkinan titik panas pun akan meningkat," ujarnya.

Dari total 11.869 titik panas yang terdeteksi selama 21 hari, rata-rata terdapat sekitar 565 titik panas setiap hari di wilayah Kaltim.

Data harian BMKG Stasiun Balikpapan juga menunjukkan tingginya aktivitas titik panas. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, mulai pukul 01.00-24.00 Wita, terdeteksi 980 titik panas di Kaltim.

Berau Catat Titik Panas Terbanyak

Dari 980 titik panas yang terdeteksi pada 21 Agustus 2026, Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni mencapai 439 titik.

Kabupaten Kutai Timur berada di posisi berikutnya dengan 178 titik panas, disusul Kutai Kartanegara sebanyak 166 titik dan Paser 113 titik.

Sementara itu, Kutai Barat tercatat memiliki 69 titik panas. Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing terdeteksi 6 titik, Mahakam Ulu 2 titik, sedangkan Balikpapan tercatat 1 titik panas.

"Kemudian Kabupaten Kutai Timur 178 titik, Kutai Kartanegara 166 titik, Paser 113 titik, Kutai Barat 69 titik, Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing 6 titik, Mahakam Ulu 2, dan Balikpapan 1 titik panas," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online