Iran Ubah Doktrin Militer, Kini Siap Balas Serangan Musuh

Newswire
Newswire Sabtu, 22 Agustus 2026 17:27 WIB
Iran Ubah Doktrin Militer, Kini Siap Balas Serangan Musuh

Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik

Harianjogja.com, TEHERAN— Iran mengubah doktrin militernya dari sebelumnya bersifat defensif menjadi ofensif setelah menghadapi konflik terbaru dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Perubahan itu membuat Iran menyatakan diri siap memberikan respons segera dan berskala besar terhadap setiap agresi.

Juru bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan perubahan doktrin tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap pengalaman Iran dalam dua perang terbaru yang melibatkan AS dan Israel.

"Sebelumnya doktrin militer negara kami bersifat defensif, tetapi dalam dua perang ini (dengan AS dan Israel), kami menyaksikan perubahan doktrin militer dari defensif menjadi ofensif," kata Akraminia seperti dikutip kantor berita IRNA, Sabtu.

Menurut Akraminia, doktrin ofensif yang kini diterapkan Iran tidak sebatas pada operasi pencegahan. Strategi tersebut juga mencakup kemampuan untuk memberikan respons langsung dalam skala besar apabila Iran menghadapi agresi dari pihak yang dianggap sebagai musuh.

Konflik Iran dan AS kembali memanas

Perubahan doktrin militer Iran itu disampaikan di tengah rangkaian konflik yang kembali memanas antara Teheran dan Washington. Pada malam 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.

Situasi kemudian berubah pada 8 Juli. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku. Setelah pernyataan itu, pasukan AS melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan AS yang berada di sejumlah wilayah Timur Tengah. Perkembangan tersebut turut meningkatkan ketegangan di kawasan yang menjadi jalur penting bagi aktivitas pelayaran dan perdagangan internasional.

Iran tutup Selat Hormuz

Ketegangan berlanjut pada 12 Juli ketika Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Teheran menyatakan jalur tersebut akan ditutup hingga AS menghentikan intervensinya di kawasan tersebut.

Sehari setelah pengumuman Iran, Trump mengatakan AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz. Pada saat yang sama, dia kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Perselisihan antara kedua negara kemudian berlanjut ke bidang ekonomi. Pada Kamis, Trump mengatakan Teheran telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington sehingga AS meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Republik Islam tersebut.

Iran sebut operasi AS akan berujung kekalahan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan tanggapan berbeda terhadap langkah Washington. Dia menyebut operasi tersebut sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari krisis yang sedang dihadapi AS.

Araghchi juga menilai kebijakan tersebut justru akan membawa Washington menuju kekalahan yang lebih besar. Pernyataan itu disampaikan ketika ketegangan antara Iran dan AS masih berlangsung setelah rangkaian serangan, pembalasan, serta perselisihan terkait Selat Hormuz.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online