Blackout Sumatra, Pakar Soroti Risiko Cuaca terhadap Sistem Listrik

Newswire
Newswire Minggu, 31 Mei 2026 04:17 WIB
Blackout Sumatra, Pakar Soroti Risiko Cuaca terhadap Sistem Listrik

Ilustrasi meteran listrik - ist/PLN

Harianjogja.com, JAKARTA— Pemadaman listrik massal atau blackout yang sempat melanda sejumlah wilayah di Sumatra menjadi perhatian para ahli ketenagalistrikan. Peristiwa tersebut dinilai menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi sistem interkoneksi listrik modern di tengah meningkatnya variabilitas cuaca akibat perubahan pola iklim.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa jaringan transmisi tegangan tinggi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Faktor seperti temperatur udara, kecepatan angin, curah hujan, hingga tingkat kelembapan dapat memengaruhi karakteristik mekanis maupun kelistrikan konduktor selama beroperasi.

“Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” ujar Kevin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, perubahan iklim membuat pola cuaca menjadi semakin dinamis. Kondisi tersebut menuntut operator sistem tenaga listrik untuk memperhitungkan lebih banyak dynamic operating condition guna menjaga stabilitas jaringan interkoneksi berskala besar seperti yang ada di Sumatra.

“Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun, variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” katanya.

Kevin menuturkan, gangguan pada jaringan transmisi skala besar umumnya tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Dalam banyak kasus, gangguan muncul akibat kombinasi berbagai contributing factor yang terjadi secara bersamaan di dalam sistem.

Ia menjelaskan bahwa gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Pada kondisi operasi tertentu, gangguan yang awalnya bersifat lokal dapat berkembang menjadi gangguan berantai atau cascading disturbance apabila memengaruhi aliran daya dan stabilitas sistem tenaga listrik secara keseluruhan.

Di sisi lain, sistem proteksi otomatis yang terpasang pada jaringan interkoneksi memiliki fungsi penting untuk menjaga keamanan pembangkit maupun jaringan transmisi ketika terjadi gangguan.

“Ketika kestabilan sistem tenaga terganggu, sistem proteksi akan bekerja otomatis untuk mencegah risiko kerusakan yang lebih besar pada jaringan maupun pembangkit sembari mencegah blackout total seluruh sistem interkoneksi,” katanya.

Menurut Kevin, semakin luas cakupan sistem interkoneksi, semakin besar pula efisiensi dan fleksibilitas penyaluran energi yang bisa diperoleh. Namun, kondisi tersebut juga berbanding lurus dengan meningkatnya kompleksitas dalam menjaga stabilitas sistem.

Karena itu, penggunaan teknologi monitoring secara real-time, analisis kondisi sistem berbasis data, hingga inspeksi jaringan menggunakan drone menjadi semakin penting dalam operasional sistem tenaga listrik modern.

Meski demikian, upaya tersebut perlu dibarengi dengan penguatan infrastruktur transmisi dan pembangkitan agar potensi gangguan yang dapat memicu ketidakstabilan sistem dapat diminimalkan.

“Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan juga bisa dilakukan lebih dini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kevin menegaskan bahwa tantangan akibat meningkatnya variabilitas cuaca tidak hanya dihadapi Indonesia. Berbagai negara yang mengoperasikan sistem interkoneksi besar juga menghadapi persoalan serupa dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan mereka.

“Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern,” katanya.

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN mengungkap adanya kemungkinan gangguan yang berasal dari putusnya kabel transmisi pada area sambungan atau mid span jointing. Gangguan tersebut diduga dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis, yang kini masih terus didalami untuk memastikan penyebab utama blackout Sumatra.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online