Ahli Jelaskan Kenapa Lombok Terus Diguncang Gempa

Foto aerial pencarian korban di bawah reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah yang rusak akibat gempa bumi di Bangsal, Lombok Utara, NTB, Rabu (8/8). BPBD Lombok Utara mencatat berdasarkan laporan dari seluruh kecamatan setempat bahwa data sementara jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di daerah itu mencapai 347 orang. - Antara foto/ Zabur Karuru
15 Agustus 2018 09:50 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, BANDUNG - Sesar naik ditengarai sebagai sebab munculnya gempa susulan di Pulau Lombok hingga ratusan kali.

Gempa bumi yang terjadi di Lombok masih terus terjadi. Hingga kini, sudah lebih dari 500 kali gempa susulan terjadi setelah sempat tiga kali mengalami gempa berkekuatan besar, yakni 6,4 SR, 7 SR, dan 6,2 SR.

Kabid Mitigasi Gempa Bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hidayati memberikan penjelasan soal fenomena tersebut.

Gempa susulan merupakan hal biasa yang terjadi setelah sebelumnya terjadi gempa berkekuatan besar. Tapi, gempa susulan kekuatannya jauh lebih kecil.

"Gempa dengan magnitude cukup besar biasanya diikuti gempa susulan yang banyak," ujar Sri, Selasa (14/8/2018).

Soal kenapa gempa susulan bisa lebih dari 500 kali, hal itu dikarenakan gempa bumi tersebut dipicu oleh sesar naik. Sehingga, potensi seringnya gempa susulan terjadi akan sangat terbuka.

"Karena gempa ini dipicu sesar naik, jadi dia akan lebih banyak ininya [gempa susulannya]," ucapnya.

Ke depan, potensi gempa susulan pun masih memungkinkan terus terjadi. "Tapi mudah-mudahan makin kecil [magnitudonya], biasanya makin lama akan makin mengecil," tuturnya.

Gempa susulan itu menurutnya merupakan proses pelepasan energi dari dalam bumi. Setelah energi yang dilepaskan habis, maka kondisinya akan kembali normal.

"Misalnya dulu energinya nol [sebelum gempa], dia akan kembali lagi ke titik yang sama. Gempa-gempa susulan yang terjadi saat ini ini masih pada tahap relaksasi sebelum benar-benar gempa susulan berhenti," pungkas Sri.

Kepala Bidang Geosains Badan Geologi Asep Kurnia Permana kembali mengingatkan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi atau ahli yang bisa memprediksi kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.

"Karena itu yang paling penting melakukan mitigasi. Kita harus mengenali geodinamika, ini sangat penting," ujarnya.

Peran pemerintah daerah pun sangat penting dalam upaya mitigasi tersebut. Apalagi, sejak 2013 lalu ada peta kawasan rawan gempa. Peta itu bisa jadi acuan bagi pemerintah daerah untuk melakukan penataan ruang dan wilayah.

Jika penataan dilakukan, minimal korban jiwa akan bisa diminimalisir jika suatu saat terjadi gempa. Bukan hanya di Lombok, peta itu juga memuat kerentanan terjadinya gempa di seluruh daerah di Indonesia.

"Kita sudah melakukan pemetaan mikrozonasi kaitannya bagaimana memetakan kaitannya dampak risiko dari [potensi] kegempaan tersebut," paparnya.

"Peta ini sebaiknya jadi bahan bagi pemda untuk menyusun tata ruang sehingga potensi [hilangnya] korban jiwa bisa dikurangi," pungkas Asep.

Sumber : Okezone