Begini Kemarahan Petinggi Demokrat saat Prabowo Pilih Sandiaga Uno

Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto saat menjajaki koalisi Pilpres 2019 akhir Juli lalu. - Antara/dok
08 Agustus 2018 23:29 WIB Anton Wahyu Prihartono News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Koalisi yang dibangun Partai Gerindra dengan Partai Demokrat terancam berantakan. Sebab, kemungkinan besar Gerindra akan menunjuk Sandiaga Uno sebagai cawapres pendamping Prabowo dan mengesampingkan Agus Harimurti Yudhoyono yang disodorkan Demokrat.

Rencana Prabowo yang menunjuk Sandiaga Uno ini menyebabkan petinggi Demokrat marah besar. Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief meluapkan kemarahannya melalui akun Twitternya Rabu (8/8) malam. Andi Arief bahkan menyebut Prabowo sebagai “jenderal kardus.” “Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaakan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghatgai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus.” Demikian cuitan Andi Arief mensikapi perkembangan koalisi menjelang pendaftaran capres dan cawapres.

Tidak hanya itu, melalui ciutan selanjutnya, Andi Arief membawa-bawa nama dua partai yang menjadi mitra koalisi yakni PAN dan PKS. Andi Arief menyebutnya dua partai itu di-entertain oleh Sandiaga Uno dengan sejumlah uang. “Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang sandi uno untuk mengentertain PAN dan PKS.” Begitu cuitan Andi Arief.

Dia tidak menjelaskan istilah entertain tersebut. Dalam cuitan selanjunya, Andi makin gamblang lagi bahwa PAN dan PKS telah dibayar. “Partai Demokrat tidak alami kecocokan karena Prabowo dalam menentukan cawapresnya dengan menunjuk orang yang mampu membayar PKS dan PAN. Ini bukan DNA kami.”

Namun, kabar yang berkembang di media bahwa kedua partai tersebut mendapat “mahar” dari Sandi senilai Rp500 miliar. Namun, kabar itu kemudian dibantah oleh petinggi Gerindra PAN dan PKS.

Kemarahan Andi Arief semakin menjadi-jadi manakala mantan aktivis 1998 tersebut menyindir seseorang yang diduga kuat adalah Prabowo. “Sejak dulu saya ragu apakah gelegar suaranya sama dengan mentalnya. Dia bukan strong leader, dia chicken.” Demikian cuitan Andi Arief.