Advertisement
Soal Rusia, Donald Trump Mencla Mencle
Presiden AS Donald Trump saat pertemuan di Istana, Singapura, 11 Juni 2018. - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -Meski sehari sebelumnya membela Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini berubah pikiran. Ia membenarkan kesimpulan Badan Intelijen AS bahwa Rusia mengintervensi pemilihan presiden pada 2016.
Trump berkilah bahwa dia salah omong pada Senin (16/7/2018), dan sebenarnya berniat mengatakan bahwa tidak ada alasan mengapa bukan Rusia yang campur tangan pada Pilpres 2016.
Advertisement
Trump kemudian menambahkan bahwa dirinya "punya keyakinan penuh dan mendukung" badan intelijen AS.
Kontroversi mengemuka setelah Trump bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia. Berikut ucapan Trump sebagaimana dikutip Gedung Putih dalam jumpa pers seusai pertemuan tersebut:
BACA JUGA
REPORTER: Presiden Putin membantah keterlibatan dalam campur tangan pemilihan pada 2016. Segenap Badan Intelijen AS berkesimpulan bahwa Rusia telah melakukannya. Pertanyaan pertama saya kepada Anda, siapa yang Anda percayai?
TRUMP: Orang-orang saya datang ke saya…mereka berkata bahwa menurut mereka itu adalah Rusia. Saya bertemu Presiden Putin, dia berkata itu bukan Rusia. Yang saya katakan adalah: Saya tidak melihat alasan apapun mengapa itu demikian.
Trump mengaku telah meninjau transkrip ucapannya dan menyadari dia perlu mengklarifikasi.
"Kalimatnya seharusnya: 'Saya tidak melihat alasan mengapa saya tidak' atau 'mengapa itu bukan Rusia' Semacam kalimat negatif ganda," ujarnya.
"Saya menerima kesimpulan komunitas intelijen bahwa campur tangan Rusia pada pemilihan 2016 telah berlangsung. Bisa jadi orang lain. Ada begitu banyak orang di luar sana," tambahnya sebagaimana dikutip BBC.com, Rabu (18/7/2018).
Trump mengatakan campur tangan itu tidak punya dampak terhadap pemilihan, yang dia menangi setelah mengalahkan Hillary Clinton. Akan tetapi, Trump tidak merespons ketika wartawan bertanya apakah dia akan mengecam Putin.
Kubu Republik maupun Demokrat tercengang ketika Trump mengeluarkan pernyataan yang memihak Rusia dan mengabaikan intelijen negaranya sendiri. Bahkan, salah satu pendukung Trump di kubu Republik, Newt Gingrich, menilai komentar Trump adalah "kesalahan paling serius dalam masa kepresidenannya".
Setelah Trump berbalik berpihak pada Badan Intelijen AS, Pemimpin Senat AS dari kubu Demokrat, Chuck Schumer, menuding sang presiden merupakan pengecut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tanpa Kembang Api, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Pengungsi
- Trump Pertimbangkan Jual Jet Tempur F-35 ke Turki, Israel Waspada
- Trump Klaim 95 Persen Rencana Damai Rusia-Ukraina Telah Disepakati
- 46.207 Penumpang Tinggalkan Jakarta dengan Kereta Api Hari Ini
- Ratusan Warga Terdampak Banjir Bandang Kalimantan Selatan
Advertisement
Penanganan Pohon Rawan Tumbang di Bantul Terkendala Kewenangan
Advertisement
Tiket Museum Nasional Disesuaikan, Lansia hingga Yatim Gratis
Advertisement
Berita Populer
- Joglo Berusia Seabad di Imogiri Bertahan di Tengah Zaman
- Mensos: BLTS 2025 Sudah Tersalurkan ke 33 Juta KPM
- BMKG: Segmen Kajai-Talamau Picu Potensi Tsunami Danau Maninjau
- SAS Hospitality Beri Donasi Rp51,5 Juta untuk Korban Bencana Sumatera
- OTT KPK di HSU, Penyidik Telusuri Modus Pemotongan
- Padatnya Jadwal Awal 2026, Pemain PSIM Tunda Liburan
- Kejagung Ungkap 4 Kasus Korupsi Terbesar Jampidsus
Advertisement
Advertisement



