3 Calon Siswa Ketahuan Pakai SKTM Fiktif

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
11 Juli 2018 20:17 WIB Rudi Hartono News Share :

Harianjogja.com, WONOGIRI -- Penggunaan surat keterangan tidak mampu (SKTM) fiktif ditemukan di Wonogiri. Akibatnya, orang tua calon siswa SMA/SMK negeri di Wonogiri mencabut pendaftaran anak mereka dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018.

Ada tiga calon siswa yang ketahuan menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang terindikasi fiktif atau tak sesuai kondisi riil. Mereka mencabut berkas pendaftaran anak mereka setelah diberi pemahaman tentang konsekuensi yang akan diterima anak apabila tetap nekat menggunakan SKTM fiktif tersebut. Informasi yang dihimpun Solopos.com, jaringan Harianjogja.com, Rabu (11/7/2018), satu SKTM fiktif ditemukan di SMAN 2 Wonogiri dan dua lainnya ditemukan di SMKN 1 Bulukerto.

SKTM tersebut diketahui fiktif setelah tim sekolah setempat memverifikasi berkas dan mengecek rumah orang tua calon siswa. Verifikasi dilaksanakan pada masa pendaftaran.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Wonogiri, Suwandi, di Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, Rabu, mengatakan berdasarkan laporan, orang tua dua siswa yang menggunakan SKTM fiktif mencabut berkas pendaftaran setelah pihak sekolah memberi pemahaman.

Kedua siswa tersebut kemudian mendaftar ke sekolah lain tanpa menggunakan SKTM. Meski ada dua siswa yang mengundurkan diri, kuota siswa SMKN 1 Bulukerto tetap terpenuhi karena ada siswa lain yang menggantikan posisi yang ditinggalkan kedua siswa tersebut.

“Setelah diberi pemahaman, orang tua siswa mencabut berkas pendaftaran atas inisiatif sendiri. Memang lebih baik begitu daripada ke depan siswa bersangkutan didiskualifikasi,” kata Kepala SMKN 2 Wonogiri itu.

Selain SMKN 1 Bulukerto, Suwandi mengaku tak mendapat laporan dari SMKN lainnya. Di Wonogiri ada delapan SMKN yang tersebar di Wonogiri, Jatiroto, Kismantoro, Pracimantoro, Bulukerto, Giritontro, dan Puhpelem. Suwandi menginformasikan seluruh SMKN terdapat pendaftar dari keluarga miskin.

Masing-masing SMKN membuka 20 persen dari total kuota untuk siswa gakin. Hal tersebut tak bisa dihindari karena peminat SMK di Wonogiri dari kalangan menengah ke bawah. Orang tua memiliki motivasi tersendiri menyekolahkan anak mereka ke SMK, yakni agar anak bisa segera bekerja begitu lulus sekolah  dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Terpisah, Wakil Kepala SMAN 2 Wonogiri Bidang Humas, Wardoyo, menuturkan di sekolahnya ada 16 pendaftar yang menggunakan SKTM. Mereka bertempat tinggal di lingkup zona I.

Dua tim melakukan verifikasi faktual ke rumah masing-masing siswa pada dua hari sebelum pendaftaran ditutup. Pada masa itu tim menemukan salah satu siswa pengguna SKTM yang rumahnya bagus, berlantai keramik, dan memiliki kendaraan. Orang tua siswa pengusaha yang cukup berhasil.

Setelah mengetahui hal tersebut tim memberi pemahaman bahwa orang tua siswa bersangkutan tidak selayaknya mendaftar menggunakan SKTM. “Setelah diberi penjelasan, orang tua mencabut berkas pada hari terakhir pendaftaran. Pada hari yang sama dia beralih mendaftarkan anaknya ke sekolah lain tanpa menggunakan SKTM,” ucap Wardoyo.

Sebanyak 15 siswa lainnya yang mendaftar di SMAN 2 Wonogiri benar-benar dari keluarga miskin. Orang tua mereka bekerja sebagai buruh serabutan yang tak memiliki penghasilan tetap. Oleh karena itu mereka mendapat prioritas diterima.



Sumber : Solopos