Sekolah & Kampus Saring Pendakwah Selama Ramadan

Ilustrasi, pengajian Ramadan di Semarang - Antara/Rekotomo
18 Mei 2018 11:25 WIB Sunartono, I Ketut Sawitra Mustika, & Ujang Hasanudin News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penceramah agama dalam kegiatan Ramadan di sekolah dan kampus di DIY akan disaring agar tidak menyebarkan radikalisme dan ekstremisme.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY telah meminta kepada setiap sekolah, terutama di jenjang pendidikan menengah, untuk memfilter penceramah dari luar sekolah. Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap radikalisme jika berpotensi berkembang di sekolah.

“Kalau sekolah mendatangkan narasumber keagamaan dari luar, khawatir kami yang datang adalah orang yang punya aliran radikal. Ini harus diantisipasi, guru dan kepala sekolah harus berbagi tugas untuk mendampinginya,” ujar Baskara Aji di kantornya, Kamis (17/5/2018).

Aji juga menginstruksikan kepada seluruh sekolah yang menemukan gejala radikalisme keagamaan untuk berkoordinasi dengan Disdikpora DIY maupun instansi lain yang berwenang.

“Bisa juga koordinasi dengan polsek, kemenag, kodim, koramil. Radikalisme harus diwaspadai sekolah,” ucap dia.

Sejumlah perguruan tinggi negeri juga memperketat pengawasan ceramah Ramadan. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi menyatakan kegiatan yang mendatangkan pemateri dari luar harus mendapatkan izin kampus. Penceramah di Masjid UIN Sunan Kalijaga juga disaring untuk mencegah kampanye radikalisme dan ekstremisme masuk kampus.

Yudian menegaskan UIN mengakomodasi seluruh aliran Islam moderat.

“Penceramah di masjid kampus sebagian dosen internal, sebagian lagi kami mengakomodasi berbagai aliran tetapi Islam moderat. Tokoh Muhammadiyah, NU kami undang untuk mengisi," kata dia.

Menurut dia, UIN tak akan memberi tempat bagi pemahaman keagamaan yang menganjurkan kekerasan. “Islam mengajarkan kedamaian,” kata dia.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa menyatakan penceramah yang masuk ke kampus disaring sesuai bidang masing-masing. Mahasiswa baru juga diawasi agar tidak termakan aliran radikalisme. “Tetapi selama ini aman. Ada berbagai kegiatan untuk mengantisipasi gerakan radikalisme.”

Sikap serupa ditunjukkan UGM. Beberapa hari lalu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno mengatakan kampusnya terus berupaya menciptakan iklim akademis yang sehat supaya tidak memunculkan radikalisme.

UGM telah melakukan riset panduan untuk menyampaikan materi-materi keagamaan yang tidak membenarkan radikalisme dan ekstremisme.

Sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhamamad Nasir meminta rektor dan direktur perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia mengawasi materi ceramah di kampus-kampus sepanjang Ramadan ini. Menristekdikti tak ingin ceramah di Bulan Suci dinodai kampanye radikalisme dan intoleransi. Nasir juga mengimbau para penceramah, khususnya di kampus-kampus agar menyerukan pesan-pesan perdamaian.

Semua rektor diminta menindak civitas academica, baik mahasiswa maupun dosen, yang mengobarkan intoleransi.

Pengawasan Kemenag

Sementara, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY akan mengambil tindakan jika ceramah di kampus-kampus sepanjang Ramadan ini mengobarkan terlalu banyak kebencian.

Kepala Kanwil Kemenag DIY Muhammad Lutfi Hamid mengatakan instansi yang ia pimpin tidak akan mengawasi secara langsung ceramah di kampus-kampus sebab itu merupakan otoritas perguruan tinggi.

“Kalau kampus mengatakan itu kegiatan ilmiah, akan jadi soal. Kalau di kampus bisa saja kegiatan ilmiah, yang di dalamnya ada kritik,” kata Lutfi.

Dengan demikian, Kanwil Kemenag DIY, sambung Lutfi, lebih memilih untuk menunggu. Jika ada laporan terkait ceramah di kampus yang menganjurkan intoleransi dan mengandung radikalisme, Kanwil Kemenag DIY akan langsung mengambil tindakan.

“Kalau memang ada ceramah yang provokatif, kami akan koordinasi dengan Badan Kesbangpol [Kesatuan Bangsa dan Politik] serta Forkopimda [Forum Komunikasi Pimpinan Daerah]. Biar pihak berwenang yang mengingatkan,” ujar Lutfi.

Lutfi juga setuju dengan permintaan Menristekdikti agar pimpinan perguruan tinggi memecat dosen yang mengidap radikalisme, mendoktrin mahasiswa dengan kebenaran tunggal agama, dan terus menerus menyuarakan kebencian terhadap pemerintah. “Untuk mahasiswa yang berperilaku intoleran dan cenderung radikal, rektorat harus memberi sanksi berat terhadap yang bersangkutan. Pemikiran fundamental seringkali menyasar orang yang pemahaman agamanya dangkal.”

Lutfi juga mengimbau kepada para takmir di semua masjid agar tidak mengundang penceramah yang mengarah pada ajakan intoleransi. Menurut dia, ada tiga hal yang tak boleh disuarakan penceramah di masjid selama Ramadan: mengampanyekan kebencian terhadap pemerintahan yang sah, menyampaikan materi soal khilafah dan menciptakan kebencian terhadap kelompok lain, serta memberikan tausiah yang membenturkan agama, sistem negara, dan budaya.

“Kalau ada penceramah yang mempunyai karakter tiga hal itu, diharapkan tidak dipakai lagi,” kata Lutfi.