Pengguna Medsos Sejatinya Sedang Telanjang di Dunia Maya

Ilustrasi penggunaan Facebook. - Reuters
17 April 2018 11:25 WIB Dhiany Nadya Utami News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Facebook mulai bersih-bersih setelah skandal kebocoran puluhan juta data ke pihak ketiga. Kecermatan dan kehati-hatian menggunakan medsos sangat penting untuk mencegah kita kecolongan. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) Dhiany Nadya utami.

Reni Lestari menuruti saran temannya untuk memeriksa laman Facebook miliknya menyusul aktifnya fitur perlindungan diri untuk para pengguna Facebook di Indonesia per Senin (16/4/2018). Awalnya dia enggan karena merasa telah lama tidak aktif di media sosial tersebut, tapi akhirnya dia pasrah saja atas desakan temannya.

Dia mengetikkan alamat situs Facebook pada perambannya. Ketika akhirnya laman terbuka, karyawan swasta itu mendapati notifikasi “Perlindungan Data Anda” di bagian teratas linimasa, seperti yang dikasih tahu oleh rekannya.

Notifikasi tersebut muncul beserta tombol untuk mengarahkan pengguna ke laman pengaturan yang kemudian ditekannya.


Saat sampai di laman Pengaturan, Reni disuguhi daftar aplikasi dan situs web yang dia akses melalui Facebook selama ini. Aplikasi dan situs tersebut dikelompokkan dalam tiga kategori yakni “Aktif” (aplikasi dan situs yang bari-baru ini diakses melalui akun Facebook), “Kedaluwarsa” (aplikasi dan situs yang sudah lama tidak digunakan), dan “Dihapus”.

Menurut keterangan yang tercantum dalam laman Pengaturan tersebut, aplikasi dan situs yang masuk dalam katagori “Aktif” adalah aplikasi yang baru-baru ini diakses pengguna melalui akunnya. Aplikasi dan situs ini masih aktif dan dapat meminta data yang aksesnya diberikan pengguna. Adapun, kategori “Kedaluwarsa” adalah aplikasi dan situs yang sudah lama tak digunakan, tetapi ada kemungkinan masih bisa mengakses informasi yang tersedia saat pengguna masih aktif menggunakan platform mereka.

Kategori terakhir yakni “Dihapus” adalah aplikasi dan situs yang telah ditanggalkan dari akun pengguna. Seluruh aplikasi dan situs yang ada dalam kategori ini tidak lagi bisa meminta data pengguna tetapi masih memiliki akses terhadap data yang dibagikan. Reni cukup tercengang melihat daftar aplikasi dan situs yang terkait dengan akunnya. Musababnya, pada kategori “Aktif” dia mendapati empat aplikasi dan situs menandai aplikasi dan situs yang baru-baru ini diakses Reni menggunakan akun Facebook.

Kategori selanjutnya lebih membuat Reni terkaget-kaget. Pada kategori “Kedaluwarsa” ternyata ada lebih dari 40 aplikasi dan situs yang tersambung dengan akun miliknya. Dia bahkan tak ingat lagi kapan dan untuk apa dia menggunakan aplikasi dan situs tersebut. Berdasarkan keterangan waktu yang menyertai aplikasi tersebut, beberapa di antaranya bahkan terakhir dia gunakan pada 2010-2015 silam.

Kekagetan tak hanya dialami Reni, beberapa rekannya yang juga diminta memeriksa akun Facebook masing-masing juga memberikan reaksi yang tak jauh berbeda. Mereka baru menyadari setelah sekian lama ternyata aplikasi dan situs tersebut memiliki akses terhadap data mereka. Satu demi satu para pengguna media sosial, khususnya Facebook, mulai menyadari betapa mereka sebetulnya telanjang di dunia maya. Mereka tidak sadar telah dengan sadar menyerahkan informasi tentang diri mereka dengan menyetujui akses berbagai aplikasi dan situs terhadap data mereka.

Enggan Memahami
Direktur Riset Elsam Wahyudi Djafar mengatakan banyaknya orang yang terhenyak sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Hal ini, menurut dia, bermula dari keengganan para pengguna layanan aplikasi untuk memahami kontak platform daring atau yang biasa dikenal dengan Terms and Conditions.
“Bahkan sekadar membacanya pun tidak, kan?” ujarnya ketika dihubungi JIBI via sambungan telepon.

Menurut Wahyudi adanya fitur Perlindungan Data sebetulnya tak benar-benar melegakan karena pengguna tidak memiliki kepastian ke mana dan bagaimana data mereka disimpan oleh para aplikasi dan situs pihak ketiga tersebut. Meski telah memutuskan untuk menghapus akses situs dan aplikasi dari akunnya, bahkan sampai menonaktifkan akunnya sama sekali, pengguna tidak punya jaminan apakah datanya akan lenyap seiring dia meniadakan akun miliknya.
Wahyudi menuturkan ini harusnya tercantum secara jelas dalam kontrak awal antara pengguna dan penyedia layanan alias dalam Terms and Conditions yang disetujui.“Harusnya jelas semua. Apa kewajiban dan hak pengguna, begitupun sebaliknya. Kita harus sadar apa saja kuasa Facebook atas konten yang kita unggah ke dalamnya,” kata Wahyudi.

Ini menjadi tantangan bagi Facebook. Raksasa media sosial ini dituntut untuk menjamin keamanan data penggunanya, baik yang ada dalam platformnya maupun data yang ada pada pihak ketiga yang masuk melalui akses Facebook.

Namun jangan sangka hanya orang-orang yang terdaftar di Facebook yang datanya dikoleksi oleh platform asal Amerika Serikat ini. Dalam sebuah pernyataan pada saat dia ditanyai parlemen AS pada Rabu (11/4) lalu, Zuckerberg mengaku Facebook juga mengumpulkan beberapa data dari nonpengguna.
Data ini berasal dari orang-orang yang ada dalam jaringan Facebook, misalnya ketika seorang pengguna menunggah alamat email teman mereka. Sumber data lainnya adalah dari “cookie” atau file-file kecil yang tersimpan pada peramban. Pemanfaatan “cookie” semacam ini lazim digunakan Facebook dan platform lain untuk melacak orang-orang di Internet, termasuk menjadikan mereka target iklan.
“Pengumpulan data semacam ini amat mendasar untuk cara kerja Internet,” demikian pernyataan Facebook seperti dilansir Reuters, Minggu (15/4).

Facebook memasang cookie pada peramban nonpengguna manakala mereka mengunjungi suatu situs yang memiliki tombol “Like” dan “Share” Facebook. Menurut Zuckerberg, Facebook menggunakan data browsing untuk membuat laporan analisis, termasuk traffic dari situs terkait. Namun, Facebook mengaku tidak menggunakan data tersebut untuk menargetkan iklan, kecuali undangan untuk bergabung ke Facebook.

Jangan Bocor
Sebetulnya ada hal-hal dasar yang dapat dilakukan untuk membatasi data kita dari pengumpulan tanpa sadar ini. Misalnya dengan menghapus cookies lewat fitur pengaturan peramban.
Ini juga berlaku pada servis lain di luar Facebook, karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, tak hanya Facebook yang menggunakan metode ini.

Wahyudi mengecam praktik yang dilakukan penyedia layanan Internet ini. Menurutnya, jika pengumpulan data dilakukan penyedia layanan terhadap penggunanya adalah wajar karena ada relasi yang terjadi di sana. Pun, praktik itu menjadi legal karena diikat oleh kontrak yaitu “Terms and Conditions” atau sejenisnya.
“[Pengumpulan data pengguna] pasti terjadi, yang penting jangan sampai data tersebut dan bocor ke publik atau pihak ketiga,” tambah Wahyudi.

Akan tetapi, jika ada pengumpulan data terhadap nonpengguna, Wahyudi menilai ini sebagai pelanggaran karena tidak ada afirmasi dari pihak yang dikumpulkan datanya. Apalagi tidak ada kejelasan data tersebut digunakan untuk tujuan apa. “Itu enggak boleh sebenarnya. Itu fatal,” tukasnya.

Pada akhirnya, media sosial dan layanan elektronik memang bagai pisau bermata dua. Para pengguna mendapatkan keuntungan mulai dari memiliki wahana untuk berinteraksi sosial via daring, hingga mempunyai lahan untuk berbisnis. Di sisi lain, ternyata tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini karena media sosial yang kita gunakan secara cuma-cuma ternyata menghimpun keuntungan dari kita, salah satunya dengan mengoleksi data.

Ke mana akhirnya data-data tersebut bermuara? Hingga kini masih menjadi rahasia.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia