Korupsi Bea Cukai, KPK Sita Kontainer Suku Cadang Ilegal di Semarang
KPK sita kontainer suku cadang ilegal di Semarang terkait kasus korupsi Bea Cukai. Sebelumnya, uang Rp5,19 miliar juga disita.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy. Antara/Mentari Dwi Gayati
Harianjogja.com, JAKARTA -Perbedaan penetapan 1 Syawal pada Idulfitri 1447 Hijriah menjadi kesempatan yang baik untuk saling menghargai perbedaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, setelah Salat Idulfitri di Sekretariat PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kantor Jakarta Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (20/3/2026). "Ini yang perlu saya sampaikan. Karena masing-masing sudah punya argumen dan sama-sama kuatnya gitu. Dan itu sangat dimungkinkan," katanya.
Ia mengutip tausiah Muhammad Quraish Shihab di Istana Negara, bahwa ketika seseorang menyaksikan bulan Ramadan, hendaknya berpuasa. Ia menyebutkan bahwa menyaksikan dalam bahasa Arab yakni syahidah yang juga berarti menghitung berdasarkan pengetahuan.
"Karena kita keyakinan, karena kita akal sehat kita menyatakan bahwa ada Tuhan itu, tidak ada Tuhan selain Allah, maka kita bersyahadat. Sama itu, jadi ini soal perbedaan metodologi yang saya kira tidak perlu dipertajam," katanya.
Pada 2026, katanya, Muhammadiyah menggunakan kalender Hijriah global tunggal. "Artinya bahwa sekarang untuk wujudul hilal, jadi keberadaan hilal itu tidak hanya diukur di wilayah tertentu, tetapi berlaku seluruh dunia. Kebetulan tahun ini tanggal 1 hilal itu muncul di Alaska. Ketika tanggal 1 muncul di Alaska maka untuk seluruh dunia berlaku itu, tidak hanya di Alaska saja," jelasnya.
Ia menjelaskan menghormati perbedaan seperti itu sesuai dengan khutbah Salat Idulfitri di lokasi tersebut, yakni tentang pentingnya terus menjaga silaturahim dengan sesama.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Fadhil Mahdi mengatakan perbedaan perayaan Idulfitri tidak hanya sekali dan dua kali. "Apalagi Muhammadiyah baru rilis kalender Hijriah global tunggal. Jadi ini bentuk syiar kita di warga Muhammadiyah untuk semua umat Muslim. Baik itu warga biasa atau yang punya otoritas dalam hal ini," kata dia.
Ia mencontohkan kalender itu bisa digunakan bersama penanggalan Masyayikh, di mana penanggalan harinya sama namun hanya beda beberapa jam saja. "Nah kita berharap ke depannya nanti entah cepat atau lambat umat Islam bisa mengadopsi itu, sehingga kita punya kalender Hijriah yang pakem untuk setiap bulannya termasuk bulan-bulan suci, seperti bulan Ramadan, bulan Syawal, dan Idul Adha," katanya.
Terkait dengan Lebaran, dia mengaku bersama keluarga merayakan Idulfitri disambung dengan mengunjungi keluarga-keluarga yang merayakan Idul Fitri 1447H pada Sabtu (21/3). "Jadi kita dapat dua kali makan. Dua kali Lebaran ya," katanya.
Dia mengaku bersyukur karena mampu melaksanakan ibadah selama Ramadan 1447 Hijriah dengan sempurna. Ia berharap pada Ramadan berikutnya bisa melaksanakan ibadah puasa dengan lebih baik lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : antara
KPK sita kontainer suku cadang ilegal di Semarang terkait kasus korupsi Bea Cukai. Sebelumnya, uang Rp5,19 miliar juga disita.
Prabowo ungkap Rp49 triliun uang tak terurus di bank akan masuk negara. Dana diduga terkait koruptor dan siap dimanfaatkan untuk rakyat.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.
Derbi PSIM vs PSS kembali di Liga 1 2026. Wali Kota Jogja ingatkan suporter jaga kondusivitas dan hindari bentrokan.
Penjualan tiket KAI tembus 584 ribu saat long weekend Kenaikan Yesus Kristus 2026. Yogyakarta jadi tujuan favorit wisatawan. Simak data lengkapnya.
Kementan pastikan stok hewan kurban 2026 surplus 891 ribu ekor. Pasokan aman, harga terkendali jelang Iduladha.