Gempa Sulteng, Satu Orang Meninggal dan 312 Warga Terdampak
BNPB melaporkan satu warga meninggal akibat gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah. Sebanyak 312 jiwa terdampak dan puluhan bangunan mengalami kerusakan.
Foto ilustrasi tsunami. Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence Freepik.
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, tidak memicu tsunami. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi menyesatkan yang beredar di media sosial terkait ancaman gelombang laut pascagempa.
Penegasan tersebut disampaikan menyusul beredarnya sejumlah video amatir di berbagai platform media sosial yang memperlihatkan kondisi air laut surut di kawasan Teluk Palu dan sejumlah lokasi lainnya. Tayangan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran dan kepanikan di kalangan warga karena dikaitkan dengan potensi tsunami setelah gempa terjadi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa gempa utama berkekuatan magnitudo 6,7 terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB. Berdasarkan analisis yang dilakukan, gempa tersebut tidak memiliki potensi menimbulkan tsunami.
"Gempa utama magnitudo 6,7 ini terjadi kemarin 16 Juni pukul 10.27 WIB dengan kedalaman dangkal di darat. Karena posisinya jauh di daratan dan bukan di pinggir laut, maka aktivitas seismik ini tidak berpotensi tsunami," kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
BNPB menilai klarifikasi tersebut penting disampaikan agar masyarakat tidak mudah mempercayai kabar bohong yang mengaitkan gempa dengan ancaman tsunami. Menurut Abdul, fenomena surutnya air laut yang terlihat di Teluk Palu merupakan kejadian alam yang umum terjadi dan tidak berkaitan dengan aktivitas gempa bumi yang berlangsung di daratan.
Ia menjelaskan bahwa perubahan muka air laut tersebut merupakan fenomena pasang surut astronomis yang terjadi secara berkala. Karena itu, kondisi tersebut tidak memiliki hubungan sebab akibat dengan gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa tektonik berada pada koordinat 1,13 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur. Lokasi episentrum tercatat berada sekitar 42 kilometer di tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Getaran gempa tidak hanya dirasakan di Kota Palu, tetapi juga terasa di sejumlah wilayah lain, termasuk Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong. Meski demikian, hingga kini tidak terdapat indikasi terjadinya tsunami akibat peristiwa tersebut.
Berdasarkan pembaruan data sekunder hingga Rabu siang, BMKG mencatat telah terjadi 118 kali gempa susulan yang terdeteksi oleh instrumen seismograf di lapangan. Aktivitas gempa susulan tersebut menunjukkan tren magnitudo yang terus menurun seiring berjalannya waktu.
BNPB bersama BMKG mengimbau masyarakat yang berada di kawasan pesisir Teluk Palu maupun wilayah terdampak lainnya agar tetap menjalankan aktivitas secara normal. Warga juga diminta hanya mengakses informasi kebencanaan dari sumber resmi dan kanal komunikasi terverifikasi milik BMKG serta BNPB guna menghindari kesalahpahaman akibat penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa Palu dan potensi tsunami.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BNPB melaporkan satu warga meninggal akibat gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah. Sebanyak 312 jiwa terdampak dan puluhan bangunan mengalami kerusakan.
Bansos Digital siap diluncurkan nasional pada akhir 2026. Prabowo akan mengecek langsung uji coba sistem Perlinsos Digital pada Juli.
Kemenhub memperoleh pagu indikatif Rp28,34 triliun pada 2027. Pemerintah mengusulkan tambahan anggaran untuk keselamatan dan layanan transportasi.
AHM dan Astra Motor Jateng meresmikan Pos AHASS TEFA di SMK Muhammadiyah 3 Weleri untuk memperkuat kompetensi siswa dan mendukung industri otomotif.
Pemerintah memastikan implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 siap dijalankan setelah serangkaian uji teknis menunjukkan hasil positif.
Selama lima tahun rutin berobat hipertensi, peserta JKN asal Bantul ini mengaku seluruh biaya pemeriksaan dan obat ditanggung BPJS Kesehatan.