Advertisement
Stok Pencegat Rudal Israel Menipis
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kapasitas pertahanan udara Israel dilaporkan berada di bawah tekanan berat setelah stok pencegat rudal balistik jarak jauh disebut mulai menipis. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan yang dilancarkan Iran selama beberapa pekan terakhir.
Laporan terbaru menyebutkan pemerintah Israel bahkan telah memberi tahu Amerika Serikat mengenai keterbatasan amunisi pencegat tersebut, memicu kekhawatiran terhadap kemampuan sistem pertahanan udara negara itu dalam menghadapi serangan berkelanjutan.
Advertisement
Mengutip laporan Anadolu Agency pada Minggu (15/3/2026), Israel disebut telah menyampaikan informasi resmi terkait kondisi stok pencegat rudalnya kepada pemerintah Amerika Serikat pada awal pekan ini.
Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh media Semafor yang mengutip pernyataan seorang pejabat tinggi Amerika Serikat yang tidak disebutkan identitasnya.
BACA JUGA
Sistem pertahanan jarak jauh Israel dilaporkan kini menghadapi tekanan ekstrem akibat intensitas serangan yang meningkat. Sebelumnya, laporan dari CNN menyebut Iran telah meningkatkan daya gempur dengan menambahkan amunisi kluster pada sejumlah rudal yang digunakan dalam serangan.
Strategi tersebut dinilai membuat sistem pertahanan udara Israel harus bekerja lebih keras untuk mencegat serangan yang datang secara bertubi-tubi.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Washington sebenarnya telah memantau keterbatasan kapasitas pencegat rudal Israel sejak beberapa bulan terakhir. Pemerintah AS disebut telah melakukan sejumlah langkah antisipasi terkait potensi melemahnya kemampuan pertahanan sekutunya tersebut.
Meski demikian, pejabat tersebut menegaskan kondisi pertahanan Amerika Serikat saat ini masih berada dalam posisi yang lebih stabil dibandingkan dengan Israel.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam sejak serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut memicu eskalasi konflik yang meluas di kawasan.
Dalam laporan yang beredar, serangan awal tersebut disebut menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Iran, termasuk Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan drone dan rudal berskala besar yang menargetkan sejumlah wilayah di Israel serta beberapa negara lain seperti Yordania dan Irak, termasuk lokasi yang menjadi basis aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah serta potensi eskalasi konflik yang lebih luas apabila serangan balasan terus berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
Advertisement
Mudik Lebaran 2026: Penumpang Terminal Giwangan Jogja Naik 15 Persen
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Bocoran The Devil Wears Prada 2, Meryl Streep Ungkap Pernah Trauma
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Iran Ancam Balas Dendam Jika AS Berani Incar Mojtaba Khamenei
- Bulog Banyumas Guyur Bantuan Pangan untuk Warga di Banyumas Raya
- Info Mudik 2026, Puluhan Ribu Orang Mulai Tinggalkan Bali Menuju Jawa
- Konsumsi Multivitamin Harian Berpotensi Memperlambat Penuaan
- Pantauan Jalur Selatan Jateng Pemudik Mulai Padati Simpang Wangon
Advertisement
Advertisement







