Gempa Sigi: 787 Rumah Rusak, 1 Warga Meninggal, 1.412 Jiwa Terdampak
Gempa M6,7 di Sigi rusakkan 787 rumah, 1 warga meninggal, ribuan terdampak. Ini data lengkap BPBD dan langkah penanganan.
Ilustrasi LPG 3 Kg - Antara
Harianjogja.com, BOGOR — Pemerintah mulai menyiapkan terobosan baru di sektor energi rumah tangga dengan mengembangkan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Langkah ini digadang-gadang mampu menekan biaya energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, penggunaan CNG sebenarnya sudah mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kini, pemerintah tengah mengkaji pengembangan lebih luas untuk kebutuhan rumah tangga.
“Untuk tabung 3 kilogram ini sedang disiapkan. Biayanya bisa lebih murah sekitar 30 sampai 40 persen dibanding LPG,” ujar Bahlil, Sabtu (2/5/2026).
Secara teknis, CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, berkisar 200–250 bar. Kandungan utamanya adalah metana (C1) dan etana (C2). Gas ini disimpan dalam tabung khusus bertekanan tinggi yang telah dirancang memenuhi standar keamanan distribusi energi.
Keunggulan utama CNG terletak pada efisiensi biaya dan ketersediaan bahan baku domestik. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar masih bergantung pada impor, CNG dapat diproduksi dari sumber gas alam dalam negeri. Hal ini dinilai menjadi solusi strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6–1,7 juta ton. Artinya, lebih dari 70 persen kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor.
Kondisi ini menjadi beban besar bagi anggaran negara, terutama karena LPG 3 kg merupakan produk bersubsidi. Dengan hadirnya alternatif CNG, pemerintah berharap beban subsidi dapat ditekan sekaligus menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat.
Meski menjanjikan, pengembangan CNG tidak lepas dari tantangan. Infrastruktur distribusi, kesiapan tabung berstandar tinggi, hingga edukasi masyarakat menjadi faktor penting yang harus disiapkan secara matang. Pemerintah juga perlu memastikan aspek keselamatan penggunaan di tingkat rumah tangga.
Selain CNG, pemerintah juga terus mendorong berbagai strategi diversifikasi energi, mulai dari peningkatan produksi minyak dan gas (lifting migas), penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Dalam konteks global, langkah ini dinilai relevan di tengah ketidakpastian harga energi dunia. Dengan mengoptimalkan sumber daya domestik, Indonesia berpeluang memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan.
Jika implementasinya berjalan lancar, tabung CNG 3 kg berpotensi menjadi game changer dalam sistem energi rumah tangga Indonesia—lebih murah, lebih mandiri, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gempa M6,7 di Sigi rusakkan 787 rumah, 1 warga meninggal, ribuan terdampak. Ini data lengkap BPBD dan langkah penanganan.
Penyaluran KUR BRI capai Rp84,36 triliun hingga Mei 2026, sektor pertanian jadi penerima terbesar pembiayaan.
Naga Sembilan juarai IHR Piala Paku Alam 2026 di Jogja, kalahkan rival kuat dalam ajang pacuan kuda bergengsi.
Sering pegal di ruangan AC? Dokter ungkap penyebab sebenarnya dan tips mencegah nyeri otot serta sendi.
Wali Kota Jogja luncurkan SAKTI PURNABAKTI, program senior living dan health tourism untuk tingkatkan kualitas hidup lansia.
Messi samai rekor Klose di Piala Dunia, Mbappe mengancam. Siapa jadi top skor sepanjang masa?