Advertisement
Bareskrim Bongkar Jual Beli Bayi di Medsos, Harga Capai Rp80 Juta
Foto ilustrasi bayi kembar. / ist
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kasus jual beli bayi melalui media sosial terungkap setelah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menemukan tujuh bayi telah diperjualbelikan dengan harga hingga Rp80 juta. Polisi memastikan seluruh bayi berhasil diselamatkan dan jaringan pelaku kini dibongkar.
Advertisement
Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin menyampaikan jumlah bayi yang diperjualbelikan dalam kasus tersebut mencapai tujuh orang. Meski jumlahnya tidak besar secara angka, ia menegaskan perkara ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
"Tujuh orang bayi ini bukan jumlah yang sedikit karena ini terhitung nyawa sehingga menjadi atensi khusus pimpinan kami untuk bisa mengungkap perkara ini," ujar Nunung di Bareskrim, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
BACA JUGA
Direktur Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dirtipid PPA dan PPO) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Nurul Azizah menjelaskan praktik jual beli bayi dilakukan melalui berbagai platform media sosial, di antaranya TikTok hingga Facebook.
Berdasarkan hasil penyelidikan, harga bayi yang diperjualbelikan bervariasi mulai Rp8 juta hingga Rp80 juta, tergantung mekanisme transaksi serta peran perantara dalam jaringan tersebut.
"Harga dari Ibu bayi, Rp8 juta sampai dengan Rp 15 juta. Kalau harga perantara Rp15 sampai Rp80 juta. Kalau perantara, semakin banyak perantaranya, harganya semakin mahal," katanya.
Dalam pengungkapan kasus jual beli bayi ini, penyidik telah menetapkan total 12 tersangka. Para tersangka terbagi dalam dua kelompok, yakni orang tua kandung yang menjual bayi dan pihak perantara yang memfasilitasi transaksi ilegal tersebut.
Jaringan tersebut diketahui beroperasi di sejumlah daerah di Indonesia, meliputi Jakarta, Banten, Jogja, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Bali, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua sejak 2024.
"Dari keterangan tersangka, jaringan ini telah melakukan aktivitas penjualan bayi secara ilegal sejak tahun 2024 dengan pendapatan ratusan juta rupiah," katanya.
Kasus jual beli bayi melalui media sosial ini masih terus dikembangkan oleh penyidik untuk mengungkap kemungkinan korban lain maupun jaringan yang lebih luas, termasuk aliran keuntungan yang diperoleh para pelaku dari praktik ilegal tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
Advertisement
Mudik Lebaran 2026: Penumpang Terminal Giwangan Jogja Naik 15 Persen
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Iran Ancam Balas Dendam Jika AS Berani Incar Mojtaba Khamenei
- Bulog Banyumas Guyur Bantuan Pangan untuk Warga di Banyumas Raya
- Info Mudik 2026, Puluhan Ribu Orang Mulai Tinggalkan Bali Menuju Jawa
- Konsumsi Multivitamin Harian Berpotensi Memperlambat Penuaan
- Pantauan Jalur Selatan Jateng Pemudik Mulai Padati Simpang Wangon
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- AS Tarik 2.000 Marinir dari Jepang, Perkuat Serangan Lawan Iran
Advertisement
Advertisement






