Advertisement
Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis
Ilustrasi penembakan - Ist/Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Provinsi Balochistan, Pakistan, kembali dilanda kekerasan serius pada Sabtu (31/1/2026) ketika serangkaian serangan bersenjata dan bom bunuh diri mengguncang sejumlah wilayah strategis. Sedikitnya 33 orang tewas dalam insiden ini, menjadikannya salah satu bentrokan paling mematikan di awal 2026.
Media militer Pakistan, Inter-Services Public Relations (ISPR), menyatakan korban tewas terdiri dari 15 personel keamanan dan 18 warga sipil. Serangan berlangsung hampir bersamaan di beberapa titik, termasuk ibu kota provinsi Quetta serta kota pelabuhan Gwadar yang memiliki nilai strategis tinggi.
Advertisement
“Delapan belas warga sipil tak berdosa dan 15 personel keamanan tewas,” demikian pernyataan ISPR yang dikutip AFP, Minggu (1/2/2026). ISPR juga menyebut operasi balasan aparat keamanan berhasil menewaskan 92 militan, termasuk tiga pelaku bom bunuh diri.
Kelompok Tentara Pembebasan Baloch (Baloch Liberation Army/BLA) mengklaim bertanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut. Kelompok separatis itu menyasar instalasi militer, kantor polisi, serta pejabat sipil, sekaligus memblokir sejumlah jalan utama guna menghambat pergerakan pasukan keamanan.
BACA JUGA
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan atas keberhasilan menggagalkan serangan lanjutan. Dalam pernyataannya, ia juga menuding India berada di balik dukungan terhadap kelompok separatis di Balochistan, tuduhan yang selama ini kerap dibantah New Delhi.
Situasi di lapangan sempat tidak terkendali. Seorang pejabat senior di Quetta mengungkapkan bahwa militan menculik seorang wakil komisaris distrik. Di wilayah lain, kelompok bersenjata dilaporkan membebaskan sekitar 30 narapidana dari sebuah penjara serta menyita senjata dan amunisi.
Kesaksian warga menggambarkan kepanikan yang meluas. Abdul Wali (38) mengatakan dirinya mendengar ledakan bertubi-tubi saat berusaha mencari darah untuk ibunya di tengah kondisi darurat. Pada saat yang sama, layanan telepon seluler dan operasional kereta api lumpuh, memperparah situasi keamanan.
Serangan ini terjadi hanya sehari seusai militer Pakistan mengklaim telah menewaskan 41 pemberontak dalam operasi terpisah. Kepala Menteri Balochistan Sarfraz Bugti menegaskan, “Serangan-serangan ini tidak dapat melemahkan tekad kita melawan terorisme,” seraya menyebut sekitar 700 militan telah ditembak mati sepanjang satu tahun terakhir.
Gelombang kekerasan terbaru kembali menyoroti konflik berkepanjangan di Balochistan, wilayah kaya sumber daya mineral namun tercatat sebagai provinsi termiskin di Pakistan. Kelompok separatis di kawasan ini kerap menargetkan warga non-lokal serta kepentingan asing yang mereka anggap mengeksploitasi kekayaan alam setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Salat Id di Gumuk Pasir Bantul, Umat Muslim Diajak Pererat Persatuan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sultan HB X Jadi Pembicara Kunci di Seminar Nasional HB II
- Arab Saudi Tetapkan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah Jatuh pada Jumat
- Kendaraan Keluar Exit Tol Prambanan Tembus Seribu Unit Per Jam
- Ratusan Ribu Kendaraan Padati Jalur Mudik pada Puncak Arus Lebaran
- PDI Perjuangan DIY Dirikan Posko Gotong Royong Mudik di Lima Titik
- Mabes TNI Selidiki Sosok Pemberi Perintah Penyiraman Aktivis KontraS
- OPINI: Fathers Matter: Ayah, Kesetaraan, dan Masa Depan Generasi
Advertisement
Advertisement







