Advertisement
Ilmuwan AS Ungkap Peran Pulau di Indonesia pada Pola Hujan MJO
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Ilmuwan meteorologi tropis dari Florida Institute of Technology, Pallav Ray, mengungkap temuan penting mengenai hubungan erat antara Madden Julian Oscillation (MJO), topografi kepulauan, dan pola curah hujan di Indonesia.
Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat (16/1/2026), Ray menjelaskan bahwa karakteristik Benua Maritim Indonesia (BMI) yang terdiri atas pulau-pulau besar yang dikelilingi lautan hangat menciptakan dinamika atmosfer yang sangat berbeda dibanding kawasan tropis lain.
Advertisement
Menurut Ray, simulasi pemodelan atmosfer yang ia lakukan menunjukkan bahwa keberadaan daratan Indonesia memainkan peran utama dalam pembentukan hujan.
“Ketika unsur daratan dihilangkan dari model, presipitasi tidak hanya berkurang di wilayah daratan, tetapi juga di lautan. Ini menegaskan betapa kuatnya pengaruh pulau-pulau terhadap sistem hujan regional,” ujarnya.
BACA JUGA
Respons Atmosfer Tidak Simetris
Ray juga menemukan adanya ketidakseimbangan dalam cara atmosfer merespons sumber panas. Pemanasan yang terjadi di pulau besar seperti Kalimantan atau Sumatra dapat memengaruhi wilayah jauh di timur hingga Papua Nugini, sementara efek sebaliknya tidak sekuat itu.
“Temuan ini menantang teori klasik sirkulasi tropis. Sumber panas yang skalanya relatif kecil ternyata mampu menghasilkan dampak atmosfer yang signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, topografi Indonesia—khususnya wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 meter—berperan besar dalam mengatur siklus harian hujan. Ketidaktepatan representasi topografi dalam model iklim dapat menimbulkan bias presipitasi di daratan yang kemudian menyebar dan mengacaukan hasil simulasi di lautan.
Kaitan MJO dan Cuaca Ekstrem
Ray menilai pengaruh MJO terhadap cuaca Indonesia sangat kompleks sehingga terus menjadi fokus perhatian ilmuwan dunia. Wilayah BMI sendiri merupakan salah satu pusat energi utama atmosfer global yang dapat memicu perubahan iklim dunia.
“Pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana MJO memengaruhi cuaca Indonesia sangat penting, terutama untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem yang berkaitan dengan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor,” kata Ray.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
- Korut Kecam Jepang soal Denuklirisasi, Ketegangan Meningkat
- Dapur MBG di Ngawi Meledak Timbulkan Luka Bakar, Diselidiki Labfor
- Pelecehan Seksual di FHUI Jadi Alarm Serius, Simak Kronologinya
- Kemarau Lebih Kering Tahun Ini, Intai Cadangan Air Tanah
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Remaja Tewas di Arteri Madukoro Seusai Tabrak Lari Malam Hari
- Update WhatsApp iPhone Bikin Chat dan Foto Lebih Mudah
- Dapur MBG di Ngawi Meledak Timbulkan Luka Bakar, Diselidiki Labfor
- Kebakaran BYD di China Picu Kekhawatiran, Ini Risiko EV
- Kelok 23 Punya View Laut, Disiapkan Jadi Destinasi Baru
- 93 Persen Anak Alami Karies, Orang Tua Diminta Waspada
- Polemik Tempo, NasDem DIY Bantah Isi Laporan dan Tegaskan Sikap
Advertisement
Advertisement









