Advertisement

BMKG Deteksi Tekanan Rendah, Cuaca Ekstrem Mengintai NTB

Newswire
Selasa, 13 Januari 2026 - 10:47 WIB
Sunartono
BMKG Deteksi Tekanan Rendah, Cuaca Ekstrem Mengintai NTB Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, MATARAM—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berpotensi memicu cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan, berupa hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan gelombang laut tinggi.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB, Satria Topan Primadi, menjelaskan keberadaan pusat tekanan rendah tersebut berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Angin permukaan di wilayah NTB saat ini bertiup dominan dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan maksimum mencapai 35 kilometer per jam, yang turut memengaruhi kondisi cuaca dan kelautan.

Advertisement

Selain itu, suhu permukaan laut di perairan NTB dan sekitarnya berkisar antara 28–30 derajat Celsius dengan anomali minus 1 hingga 0,5 derajat Celsius. Kondisi ini, ditambah penguatan Monsun Asia dan aliran massa udara dari Laut China Selatan, memperkuat pembentukan daerah konvergensi di wilayah Jawa, Bali, NTB, hingga NTT yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, serta mewaspadai gelombang laut yang mencapai dua meter atau lebih," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi di Mataram, Selasa.

Analisis kondisi fisis dan dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG mengungkap bahwa keberadaan pusat tekanan rendah mampu memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan.

Angin permukaan di wilayah NTB bertiup dengan arah variasi dominan barat daya hingga barat laut dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 kilometer per jam.

"Suhu permukaan laut di wilayah perairan NTB dan sekitarnya berkisar antara 28 sampai 30 derajat Celcius dengan anomali minus 1 derajat Celcius hingga 0,5 derajat Celcius," ujar Satria.

Selain pusat tekanan rendah, dinamika atmosfer lainnya berupa penguatan aliran massa udara dari Benua Asia turut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.

Monsun Asia yang menguat disertai peningkatan kecepatan angin dari wilayah Laut China Selatan bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.

Pola aliran angin ini memperkuat pembentukan daerah konvergensi di sepanjang Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Kemunculan pusat tekanan rendah turut mempengaruhi sirkulasi angin regional yang memperkuat perlambatan dan pengangkatan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan.

Kombinasi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat di sepanjang Pulau Jawa sampai Kepulauan Sunda Kecil.

Ia menegaskan perlu langkah-langkah mitigasi dan antisipasi dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem guna meminimalkan potensi dampak potensi bencana hidrometeorologi akibat peningkatan Monsun Asia dan kemunculan pusat tekanan rendah.

Kepala BMKG Pusat, Teuku Faisal Fathani, menyebut kombinasi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan peluang hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di sepanjang Pulau Jawa sampai Kepulauan Sunda Kecil. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah mitigasi guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Bantul Percepat Mekanisasi Pertanian lewat 17 Bantuan Alsintan

Bantul Percepat Mekanisasi Pertanian lewat 17 Bantuan Alsintan

Bantul
| Selasa, 13 Januari 2026, 12:47 WIB

Advertisement

Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue

Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue

Wisata
| Minggu, 11 Januari 2026, 15:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement