Advertisement
Terjadi Lonjakan Kasus Rabun Anak, Kemenkes Turun ke Sekolah
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus melihat skrining pemeriksaan mata siswa SDN Bulak Rukem 1 Surabaya, Minggu (30/21/2025). ANTARA - Indra Setiawan
Advertisement
Harianjogja.com, SURABAYA—Kementerian Kesehatan menggencarkan pemeriksaan mata bagi anak sekolah agar mereka dapat belajar dan berprestasi tanpa terganggu masalah penglihatan.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, saat dikonfirmasi di Surabaya, Minggu, meninjau langsung pelaksanaan skrining mata di SDN Bulak Rukem 1 Surabaya.
Advertisement
“Hari ini kita lihat sendiri kegiatan ini bagaimana kerja sama lintas sektoral, bukan hanya Kementerian Kesehatan tetapi juga Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Persatuan Dokter Mata, Dinkes Provinsi, Dinkes Kota Surabaya, serta Dinas Pendidikan Surabaya,” katanya, Minggu (30/11/2025).
Benjamin menegaskan pentingnya program ini untuk mendukung capaian prestasi akademik anak melalui penglihatan yang sehat.
BACA JUGA
“Maka ini akan kita masukkan dalam Cek Kesehatan Gratis di sekolah. Ini akan menjadikan kerja sama lebih intens lagi di tahun 2026,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan program yang lebih tepat sasaran. Hingga kini, Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau sekitar 55 juta orang, termasuk 17 juta anak-anak.
“Tahun depan akan kita fokuskan lagi. Jika ditemukan kasus anak yang membutuhkan kacamata, itu akan dikerjakan lintas sektoral baik pemerintah maupun swasta,” katanya.
Terkait gaya hidup anak yang memicu peningkatan kebutuhan kacamata, Benjamin menyebut hal itu tak lepas dari penggunaan gawai sejak usia dini.
“Sekarang banyak anak memakai gawai sejak usia 2–4 tahun. Ketika masuk SD, kerusakan mata sudah terjadi sehingga kasus melonjak. Banyak anak prestasinya terganggu karena mereka tidak tahu mengalami gangguan penglihatan, dan orang tuanya pun tidak tahu,” ujarnya.
Ia memastikan kegiatan skrining seperti ini akan diperluas dengan perencanaan lebih baik pada tahun depan, tidak hanya di Surabaya, tetapi di seluruh Indonesia.
“Artinya nanti bukan hanya pemeriksaan, tetapi juga solusinya, termasuk pemberian kacamata. Setelah ditemukan kasus, harus ada jalan keluar. Kacamata harus diberikan setelah kondisi mata anak diukur dengan tepat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Perdami, Prof. dr. Budu, mengungkapkan bahwa tahun ini sekitar 165 juta anak Indonesia mengalami rabun dan membutuhkan kacamata.
“Dan itu hanya satu dari empat yang bisa mendapatkan solusi berupa pemberian kacamata,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Malioboro Membeludak, Wisatawan Dialihkan ke Kotagede dan Kotabaru
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Rabu Tak Lagi ke Kantor, ASN di Jatim Mulai WFH Rutin
- Performa Motor Tetap Terjaga Ini Cara Honda Edukasi Pengendara
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Sering Dianggap Wajar Kebiasaan Ini Diam-Diam Menguras Energi
- Pemeriksaan Yaqut Berlanjut Setelah Kembali ke Rutan KPK
- WFH Nasional Mulai Dibahas, Ini Kata Kemendagri
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
Advertisement
Advertisement







