Advertisement
Sultan HB X: Keracunan MBG Bisa karena Masak Terlalu Pagi
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, saat ditemui media di Kompleks Kepatihan, Kamis (24/7/2025). - Harian Jogja/LUS
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Sri Sultan HB X menyebut kasus keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kemungkinan terjadi karena katering memasak terlalu dini akibat pesanan melonjak .
"Mungkin masaknya jam setengah dua pagi. Kalau sayur (dimasak) jam setengah dua pagi, baru dimakan jam delapan atau jam 10 ya mesti layu (basi)," kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (19/9/2025).
Advertisement
Menurut dia, masalah itu terjadi ketika beban katering meningkat dua kali lipat, misalnya dari biasanya 50 porsi menjadi 100 porsi, sementara jumlah SDM atau tenaga memasak tidak ditambah.
Kondisi tersebut membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia jasa harus menyiapkan masakan jauh lebih awal demi mengejar waktu.
"Biarpun (MBG) masih percobaan tapi dibebani jadi 100 porsi. Berarti kan dua kali lipat. Berarti apa? Mungkin masaknya jam setengah dua pagi," ucap Raja Keraton Yogyakarta itu.
Demi mencegah kasus berulang, ia menilai tenaga memasak harus ditambah agar makanan tidak disiapkan terlalu dini.
"Gimana menghindari seperti itu, tukang masaknya aja diperbanyak. Jadi tidak masak jam dua atau jam tiga pagi, lalu dimakan di jam delapan atau jam 10 ya mesti keracunan," ujar dia.
Terkait pengawasan, Sultan menyebut hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang menaungi sekolah-sekolah sasaran program MBG.
"Ya berarti pemerintah daerah setempat, 'wong' sekolah-sekolah lha (Pemda DIY) mau mengawasi bagaimana," katanya.
BACA JUGA: Sleman Juara Umum Porda DIY XVII, Catatkan Quattrick
Mengenai higienitas, ia menilai faktor itu relatif, karena risiko besar tetap muncul manakala makanan tetap disiapkan terlalu dini.
"Kalau higienitasnya relatif itu. Tapi masak sayurnya, makin malam, bukan makin pagi, nih makin malam, mesti sudah dalam bentuk layu (basi)," ucapnya.
Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menyatakan telah melakukan kajian kemungkinan penetapan kejadian luar biasa (KLB) program MBG pasca-keracunan massal menimpa ratusan siswa di sejumlah kabupaten di provinsi ini.
Kasus keracunan massal, di antaranya di Kabupaten Sleman pada 13 Agustus 2025 yang dilaporkan menimpa 212 siswa dari SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Negeri 3 Mlati, dan SMP Pamungkas Mlati.
Seluruh siswa itu diketahui mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG yang disalurkan ke sekolah masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Teh Bisa Kehilangan Manfaat Jika Dicampur Ini
- Ratusan Pemudik Pilih Balik Naik Kapal Perang dari Semarang
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Belajar Daring untuk Hemat Energi, Kualitas Pendidikan Dipertanyakan
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Anak Balita Tiba-Tiba Menolak Makan, Ini Penyebabnya
Advertisement
Advertisement







