Advertisement
67 Orang Tewas Akibat Serangan Militer Israel di Gaza Utara
Ratusan warga membawa bantuan yang mereka terima dari truk yang memasuki Jalur Gaza utara, di jalan utara Kota Gaza, Palestina (22/6/2025). ANTARA/Xinhua - Rizek Abdeljawad
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Setidaknya 67 warga Palestina dilaporkan tewas akibat tembakan militer Israel saat tengah menunggu truk bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di wilayah Gaza utara, Minggu (20/7/2025).
BACA JUGA: PBB Desak Jalur Gaza Dibuka
Advertisement
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Senin (21/7/2025) informasi tersebut disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Gaza. Insiden ini terjadi di tengah perintah evakuasi baru yang dikeluarkan Israel untuk wilayah-wilayah yang sudah padat dengan pengungsi.
Lebih lanjut, Kementerian tersebut mengatakan bahwa puluhan orang lainnya juga mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Kejadian ini juga menjadi salah satu jumlah korban jiwa tertinggi, dari serangkaian insiden serupa baru-baru ini.
Enam orang lainnya juga dilaporkan meninggal dunia di dekat lokasi bantuan lain di wilayah selatan, lanjut pernyataan itu.
Di samping itu, Militer Israel menyatakan bahwa pasukannya melepaskan tembakan peringatan ke arah ribuan orang di Gaza utara pada Minggu (20/7) karena menganggap kerumunan itu sebagai ancaman langsung.
Pihak Militer juga menuturkan, bahwa temuan awal soal laporan korban jiwa kemungkinan dibesar-besarkan dan tidak sengaja menargetkan truk bantuan kemanusiaan.
Adapun, pihak militer Israel juga tidak berkomentar mengenai insiden di wilayah Selatan tersebut.
Program Pangan Dunia (WFP) PBB menyatakan bahwa tak lama setelah memasuki wilayah Gaza, konvoi WFP yang terdiri dari 25 truk pengangkut bantuan makanan menghadapi kerumunan besar warga sipil yang kelaparan, yang kemudian menjadi sasaran tembakan.
“WFP menegaskan kembali bahwa segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil yang mencari bantuan kemanusiaan sama sekali tidak dapat diterima,” jelas pernyataan lembaga tersebut.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok tersebut marah atas semakin banyaknya korban jiwa dan krisis kelaparan di wilayah itu.
Menurutnya, situasi ini juga dapat berdampak buruk terhadap perundingan gencatan senjata yang sedang berlangsung di Qatar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Wisatawan Nekat Terobos TPR Parangtritis demi Hindari Tiket Masuk
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Performa Motor Tetap Terjaga Ini Cara Honda Edukasi Pengendara
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Sering Dianggap Wajar Kebiasaan Ini Diam-Diam Menguras Energi
- Pemeriksaan Yaqut Berlanjut Setelah Kembali ke Rutan KPK
- WFH Nasional Mulai Dibahas, Ini Kata Kemendagri
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
Advertisement
Advertisement







