WHO Sebut Masih Ada 10.000 Warga Terkubur Reruntuhan di Jalur Gaza

Newswire
Newswire Selasa, 27 Mei 2025 10:47 WIB
WHO Sebut Masih Ada 10.000 Warga Terkubur Reruntuhan di Jalur Gaza

Sejumlah warga berkumpul di dekat bangunan masjid dan gedung-gedung permukiman yang hancur setelah serangan pasukan Israel di jalur Gaza, Palestina. ANTARA/Anadolu/py

Harianjogja.com, JENEWA— Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekurangnya ada 10.000 jenazah warga Palestina di Jalur Gaza yang masih tertimbun reruntuhan gedung-gedung yang ambruk akibat agresi Israel.

"Diperkirakan masih ada 10.000 orang yang terkubur di bawah bangunan yang ambruk," kata Direktur Regional WHO untuk kawasan Mediterania Timur Hanan Balkhi, Senin.

Di samping itu, ia menyatakan masih ada setidaknya 15.000 warga Gaza yang perlu dievakuasi untuk mendapat layanan kesehatan yang mendesak. "Saat ini sudah ada lebih dari 7.500 orang yang telah dievakuasi untuk penanganan medis," kata dia.

Direktur Regional WHO itu juga menyatakan bahwa pihaknya terus meminta Israel supaya mengizinkan evakuasi warga Gaza yang memerlukan pertolongan medis.

"Kami juga terus meminta dan mendorong berulang kali supaya mengizinkan masuk truk ... hampir 51 truk menunggu di perbatasan untuk masuk dengan semua bentuk bantuan," kata dia.

BACA JUGA: Kecelakaan KA Malioboro Ekspres yang Tewaskan 4 Orang, Polisi Tetapkan Penjaga Palang Pintu Sebagai Tersangka

Namun, menurut Balkhi, respons Zionis Israel terhadap berbagai desakan WHO supaya bantuan alat-alat medis dapat masuk ke wilayah kantong tersebut masih belum memuaskan.

"Komunikasi berlanjut, permohonan terus diajukan, tapi responsnya jauh dari memuaskan," ucap Balkhi.

Pada 16 Mei, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) mengumumkan operasi militer baru di Gaza bernama "Gideon's Chariots" (Kereta perang Gideon). Operasi tersebut diklaim Israel bertujuan untuk sepenuhnya menghancurkan Hamas.

Pemimpin otoritas Zionis Benjamin Netanyahu, pada 18 Mei, mengumumkan bahwa pihaknya akan mengizinkan masuk bantuan pangan ke Gaza demi mencegah bencana kelaparan, namun dalam jumlah terbatas. Keputusan tersebut mengundang kecaman dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkonfirmasi bahwa hanya ada 9 truk bantuan yang diizinkan masuk wilayah kantong tersebut. Mereka menyebut bantuan kemanusiaan yang masuk pertama kali sejak Maret itu sekadar "setetes air di lautan".

Pada 18 Maret, Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza, dengan alasan gerakan perlawanan Hamas menolak rencana gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat dan berakhir pada 1 Maret.

Awal bulan itu, Israel juga memutus pasokan listrik ke instalasi penyulingan air laut di Gaza dan melarang masuknya truk-truk bantuan kemanusiaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara - Sputnik

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online