Advertisement
AS Setop Suplai Senjata ke Israel Setelah Rafah Dibombardir
Masyarakat di Kota Rafah di Jalur Gaza bagian selatan pada Kamis (12/10/2023) membantu upaya penyelamatan para korban rentetan serangan udara Israel. (ANTARA/Khaled Omar/Xinhua - tm)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Operasi darat besar-besaran Israel di Kota Rafah di Gaza Selatan dikhawatirkan membunuh banyak warga sipil.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pun menyetop pengiriman besar bom seberat 2.000 pon (907 kg) dan 500 pon (227 kg) kepada Israel. Ini pertama kalinya AS menahan pengiriman senjata untuk Israel, sejak pecahnya perang di Gaza, pada 7 Oktober tahun lalu.
Advertisement
BACA JUGA: Amerika Akui Banyak Warga Palestina Tewas di Gaza Akibat Bom yang Dipasok ke Israel
Melansir Times of Israel, Kamis (9/5/2024), AS dengan tegas menentang serangan besar-besaran di Rafah, dan mengadakan beberapa pertemuan virtual dengan para pejabat tinggi Israel untuk mengungkapkan kekhawatiran mengenai potensi operasi Rafah, dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, AS juga memberikan alternatif kepada Israel saat menargetkan Hamas di Rafah tanpa melakukan invasi skala penuh. Seorang pejabat senior pemerintahan Biden menyatakan pembicaraan tersebut akan terus berlanjut, namun Gedung Putih menilai bahwa pembicaraan tersebut tidak cukup untuk menyampaikan kekhawatirannya.
"Ketika para pemimpin Israel tampaknya mendekati titik pengambilan keputusan pada bulan lalu mengenai operasi semacam itu, kami mulai dengan hati-hati meninjau usulan transfer senjata tertentu ke Israel yang mungkin digunakan di Rafah,” kata pejabat itu.
BACA JUGA: Turki Pukul Israel dengan Embargo Hubungan Perdagangan
Pejabat itu menyatakan bahwa pembicaraan tersebut mengakibatkan penghentian pengiriman bom, 1.800 bom seberat 2.000 pon dan 1.700 bom seberat 500 pon pada pekan lalu. Gedung Putih sangat khawatir bahwa Israel akan menggunakan bom seberat 2.000 pon di Rafah yang padat penduduknya, dan wilayah Gaza lainnya, sebagai upaya Israel untuk melakukan serangan balasan.
Pejabat AS tersebut mengklarifikasi bahwa belum ada keputusan akhir yang dibuat mengenai pengiriman khusus ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Rahasia Makna Teologis di Balik Telur Paskah
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Potongan Jenazah Ditemukan di Kapal Thailand yang Diserang Rudal
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Dua Prajurit Masih Dirawat, KSAD Ungkap Situasi Terkini Lebanon
- Suhu Kawah Melonjak Radius Aman Gunung Slamet Diperluas
Advertisement
Advertisement








