Advertisement
Selatan DIY Sering Diguncang Gempa dan Berpotensi Tsunami, Begini Rekomendasi Badan Geologi
Ilustrasi gempa bumi - JIBI
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan rekomendasi agar bangunan di kawasan Selatan DIY dan Jawa Tengah (Jateng) dibikin tahan gempa. Rekomendasi ini disampaikan menindaklanjuti gempa yang terjadi beberapa kali di Bantul, DIY.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Sugeng Mujiyanto mengatakan pusat gempa bumi adalah daerah selatan DIY dan Jateng. Dia memperkirakan berdasarkan posisi lokasi pusat gempa dan kedalaman, diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif pada zona prismatik akresi yang terletak pada bagian atas Megathrust.
Advertisement
Sesar aktif pada zona ini pada umumnya merupakan sesar naik. Badan Geologi mencatat pemukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi sebagian besar terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah hingga tinggi.
"Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut. Diperkirakan tidak mengakibatkan terjadinya deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami," ucapnya melalui rilis, Minggu (2/7/2023).
BACA JUGA: Gempa Susulan di Bantul Capai 53 Kali, Ini Catatan Penting BMKG
Dia menjelaskan, data Badan Geologi juga mencatat jika wilayah pantai selatan DIY dan Jawa Tengah tergolong rawan tsunami dengan potensi tinggi tsunami di garis pantai lebih dari 3 meter. Masyarakat diminta untuk tidak mudah panik tetapi tetap waspada. Juga mengikuti informasi dari petugas BPBD setempat. "Badan Geologi merekomendasikan, bangunan di daerah selatan DIY dan Jateng harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi," ujarnya.
Bangunan tahan gempa berguna untuk menghindari risiko kerusakan karena wilayah bagian selatan DIY dan Jateng tergolong rawan gempa bumi dan tsunami, maka harus lebih ditingkatkan upaya mitigasi melalui mitigasi struktural dan nonstruktural. "Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) yaitu, retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi," ujar dia.
Sugeng menjelaskan morfologi daerah tersebut pada umumnya merupakan dataran, dataran bergelombang, dan perbukitan bergelombang hingga terjal pada bagian utara. Wilayah pantai daerah tersebut secara umum tersusun oleh tanah sedang (kelas D) dan tanah lunak (kelas E).
Daerah tersebut pada umumnya tersusun oleh endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, aluvial sungai, dan batuan rombakan gunungapi muda, serta batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen (batupasir, batulempung, batulanau, batugamping). Sebagian batuan berumur Tersier dan batuan rombakan gunungapi muda tersebut telah mengalami pelapukan.
"Endapan kuarter dan batuan berumur tersier yang telah melapuk pada umumnya bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak [unconsolidated] dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Selain itu pada morfologi perbukitan yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan akan berpotensi terjadi gerakan tanah apabila dipicu guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi," ungkap Sugeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Wisatawan Nekat Terobos TPR Parangtritis demi Hindari Tiket Masuk
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Sering Dianggap Wajar Kebiasaan Ini Diam-Diam Menguras Energi
- Pemeriksaan Yaqut Berlanjut Setelah Kembali ke Rutan KPK
- WFH Nasional Mulai Dibahas, Ini Kata Kemendagri
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Libur Lebaran Ramai, Kamar Hotel DIY Justru Banyak Kosong
- Tak Semua Orang Perlu Multivitamin Ini Kata Ahli Gizi
Advertisement
Advertisement





