Advertisement
Tak Hanya di Jogja, Warga Boyolali Juga Rasakan Panas dan Gerah
Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau. - Harian Jogja/Nina Atmasari
Advertisement
Harianjogja.com, BOYOLALI— Cuaca panas dan gerah melanda Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah seiring terjadinya erupsi Gunung Merapi. Suhu panas dan gerah sebelumnya juga dirasakan warga Jogja.
Beberapa warga Boyolali mengeluhkan cuaca panas dan gerah dalam sepekan ini. Mereka menduga penyebab cuaca panas di Boyolali diakibatkan aktivitas Gunung Merapi yang memuntahkan awan panas sejak Sabtu (11/3/2023).
Advertisement
Salah satu warga Kemiri, Mojosongo, Joko, 47, mengaku merasakan cuaca panas sejak sepekan lalu. Ia menduga cuaca panas akhir-akhir ini diakibatkan aktivitas Gunung Merapi.
“Kalau enggak salah sejak Merapi erupsi itu, habis itu panas terus. Bahkan semalam saja masih panas, biasanya saya tidur pakai selimut, sudah hampir seminggu [sepekan] ini enggak pakai,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com-jaringan Harianjogja.com di Kemiri, Jumat (17/3/2023).
Ia mengaku cuaca Boyolali berubah jadi panas dan gerah sejak sepekan yang lalu. Sebelumnya ia selalu kehujanan saat pulang kerja. Namun, sekarang siang dan malam ia merasakan cuaca yang sangat panas.
Sementara itu, warga Candigatak, Cepogo, Luqman Hakim, 19, juga mengaku merasakan cuaca panas dan gerah bahkan sebelum erupsi Merapi.
“Seingat saya beberapa hari sebelum erupsi Gunung Merapi itu memang sudah panas. Terus Sabtu itu ada erupsi, terus saya pikir itu penyebabnya, karena Merapi nduwe gawe,” pikirnya.
Luqman mengungkapkan cuaca panas akhir-akhir ini cukup membuatnya kaget saat beraktivitas sehari-hari. Ia mengaku hampir setiap hari bolak-balik Boyolali-Sukoharjo untuk kuliah dan harus merasakan cuaca panas sepanjang perjalanan.
“Sebelumnya saya kehujanan terus, ini sepekan ini kepanasan terus. Yang sebelumnya jarang jajan es teh, sekarang jadi sering jajan es teh kalau di kampus,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Widodo Munir, menegaskan penyebab cuaca panas akhir-akhir ini di Boyolali bukan karena aktivitas erupsi Gunung Merapi. Ia mengungkapkan panas disebabkan masa pancaroba dari hidrometeorologi basah ke hidrometeorologi kering.
“Sehingga tubuh kita seolah-olah kaget, hlo kemarin adem, kok sekarang panas, begitu. Tapi mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, tubuh kita dapat menyesuaikan. Mungkin sebenarnya suhunya sama, tapi sekali lagi saya tegaskan ini bukan efek dari erupsi Merapi, tapi alamiah,” tuturnya.
BACA JUGA: Daftar Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell, BP AKR 17 Maret 2023
Lebih lanjut, Widodo mengatakan potensi bencana yang akan dihadapi di masa hidrometeorologi kering nantinya adalah kekeringan di sejumlah daerah di Boyolali.
Cuaca panas dan gerah sebelumnya juga dirasakan warga Jogja. Cuaca panas juga terjadi wilayah selatan Jawa lainnya seperti di Jogja. Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA, Romadi, mengakui peningkatan cuaca panas di Jogja beberapa hari ini.
"Cuaca terik dipengaruhi oleh kelembaban perlapisan 700 milibar sampai dengan 500 milibar. Ini sangat kering hingga mencapai 30 persen, sehingga sinar Matahari langsung menembus permukaan Bumi. Sampai di permukaan Bumi, sinar Matahari kembali dipantulkan kembali ke atmosfer," ucapnya kepada harianjogja.com, Senin (13/3/2023) lalu.
Milibar atau mb adalah satuan tekanan udara. Dia menjelaskan berkurangnya intensitas hujan beberapa hari ke belakang di Jogja dan sekitarnya di DIY salah satunya karena adanya pola tekanan rendah di utara Papua. Ini menyebabkan pola konvergensi bergeser ke perairan utara Jawa, sehingga mengurangi massa uap air hujan di wilayah DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Bakar Sarang Tawon, Rumah Kosong di Bantul Ikut Terbakar
- Modus Penipuan Kartu Kredit Meningkat, BRI Beri Warning
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
- Buruh di DIY Desak Revisi UMP 2026, Tuntut Minimal Upah Rp4 Juta
- Empat Nama Indonesia Kuasai Daftar Taipan 2026 di Asia Tenggara
- Aceh Timur Terendam Lagi, Lima Kecamatan Dilanda Banjir
- Longsor Susulan Sempat Tutup Akses Warga Wonolelo Pleret Bantul
Advertisement
Advertisement






