Advertisement

Harian Jogja

Puncak DBD di Indonesia Diprediksi pada April dan Mei 2023

Arlina Laras
Jum'at, 27 Januari 2023 - 08:47 WIB
Budi Cahyana
Puncak DBD di Indonesia Diprediksi pada April dan Mei 2023 Ilustrasi-nyamuk demam berdarah - Foxnews

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Demam berdarah dengue (DBD) diprediksi akan mencapai puncak pada April dan Mei.

Populasi nyamuk Aedes aegypti umumnya meningkat pada musim hujan. Curah hujan tinggi merupakan kondisi terbaik bagi nyamuk pembawa virus Dengue untuk berkembang biak.

Advertisement

BACA JUGA:  Tokopedia Bantu Perempuan Pelaku UMKM Memiliki NIB

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Infeksi Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Mulya Rahma Karyanti menerangkan tren terjadinya kasus DBD itu biasanya diawali dari bulan Januari hingga Mei. 

“Puncaknya biasanya pada bulan April dan Mei. Ini betul-betul harus diwaspadai. Terlebih lagi sekarang dijumpai cukup banyak tumpukan sampah yang memicu genangan air atau selokan mampet. Hal ini bisa menjadi sumber dari naiknya kasus DBD,” ujarnya dalam Media Briefing Demam Berdarah Dengue pada Anak, Kamis (26/1/2023). 

Dia pun mengingatkan para orangtua untuk lebih waspada terhadap nyamuk ‘aedes aegypti' yang memang aktif menularkan pada waktu bermain anak.

“Waktu rawan, di mana nyamuk ‘Aedes aegypti' menularkan penyakit ini puncaknya ada di jam 08.00-10.00 dan jam 15.00-17.00. Di mana pada jam-jam tersebut juga merupakan saatnya anak-anak banyak aktif berkegiatan dan bermain,” jelasnya. 

Adapun, kasus DBD saat ini paling banyak terjadi di kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali. 

Menurutnya, kepadatan penduduk tersebut diperburuk dengan banyaknya saluran air tergenang, tumpukan barang bekas, dan ketidakrutinan warga untuk menguras bak mandi atau tempat-tempat penampungan air.

Mirip Covid-19

Yanti menambahkan, demam berdarah dan demam karena infeksi virus Covid-19 memiliki gejala yang mirip di tiga hari pertama. 

“Orang rumah harus mewaspadai karena DBD itu memang tanpa gejala. Tapi, kalau sudah tiga hari demam tidak turun, lalu sudah pernah mengalami muntah hebat, nyeri perut, makin lemas, tidur terus, sampai pendarahan harus segera cari pertolongan,” katanya. 

Berbeda dengan demam DBD yang lebih menyerang saluran pencernaan, demam Covid-19 lebih ditandai dengan gejala respirasi yang lebih dominan seperti sesak napas, batuk, susah menelan anosmia (kondisi saat seseorang tidak bisa mencium bau) dan pilek.

Lalu, untuk demam Covid-19 menjelang akhir minggu pertama, yakni antara hari ke-5 sampai hari ke-7 mulai ada gejala gejala respiratorik seperti sesak, batuk pilek. Di sinilah tanda-tanda biasanya makin berat.

Masyarakat perlu waspada akan kebocoran plasma kepada penderita demam berdarah dengue (DBD) yang bisa mengakibatkan kematian. 

Dia mengatakan, lapisan pembuluh darah kapiler yang hanya satu lapis rentan terbuka lebar akibat racun yang dikeluarkan oleh virus dengue. Jika infeksi racun virus dengue terhadap penderita itu semakin parah.

Yanti mencontohkan, salah satu pertanda yang bisa dilihat dari penderita DBD adalah munculnya bintik-bintik merah atau ruam di bagian kulit. Bahkan bisa lebih parah adalah keluarnya darah mimisan. 

"Jika sampai tidak ditangani dengan baik, penderita bisa mengalami sindrom yang disebut DSS (dengue shock syndrome). Inilah tahapan kritis paling mengkhawatirkan penderita yang bisa memicu kematian.

Bahkan, orang dengan obesitas, thalassemia atau kelainan darah, kelainan jantung, hingga gagal ginjal memiliki risiko lebih tinggi ketika menderita DBD. 

Pencegahan Demam Berdarah

Demam berdarah bisa dicegah dengan cara memantau tampungan air untuk ditutup rapat, mendaur ulang barang bekas adalah kegiatan yang sangat penting. 

Selain itu, di musim pancaroba seperti saat ini, penting untuk masyarakat mengonsumsi makanan sehat serta suplemen atau vitamin guna memperkuat daya tahan tubuh. 

Upaya 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) terkait dengan gerakan masyarakat juga terus digalakkan.

"Fogging dengan radius 100 meter dari titik kejadian DBD juga perlu dilakukan. Tapi, fogging itu sebatas upaya untuk membunuh nyamuk terbang saja, tetapi kalau jentiknya kita akhiri tidak sampai dewasa akhirnya mati juga nyamuknya,” tegasnya.

Kini, berdasarkan pernyataan Yanti, vaksin DBD di Indonesia tengah diujicobakan untuk cakupan yang lebih luas dari usia 6 tahun hingga 45 tahun untuk dua kali dosis dengan interval tiga bulan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja
Baca Koran harianjogja.com

Advertisement

alt

Cegah Kekerasan Jalanan, DPRD Bantul Pertimbangkan Aturan Jam Malam

Bantul
| Selasa, 28 Maret 2023, 23:47 WIB

Advertisement

alt

Deretan Negara di Eropa yang Bisa Dikunjungi Bagi Pelancong Berduit Cekak

Wisata
| Selasa, 28 Maret 2023, 05:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement