Advertisement

Hampir 60.000 Warga China Meninggal Akibat Covid-19 Hanya dalam Sebulan

Feni Freycinetia Fitriani
Minggu, 15 Januari 2023 - 07:17 WIB
Bhekti Suryani
Hampir 60.000 Warga China Meninggal Akibat Covid-19 Hanya dalam Sebulan Sejumlah petugas medis dikerahkan di kompleks permukiman di Distrik Chaoyang, Beijing, China, yang sedang di-lockdown, Senin (21/11/2022), untuk mengambil sampel tes PCR para penghuninya. Otoritas Kota Beijing memperketat kebijakan nol kasus COVID-19 setelah ditemukan tiga kasus kematian dalam dua hari berturut-turut pada 19-20 November 2022. - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA— China mengatakan hampir 60.000 orang meninggal di rumah sakit lantaran terkait Covid-19 sejak awal Desember 2022. Pemerintah China menawarkan beberapa petunjuk tentang biaya perubahan kebijakan virus Covid-19 yang tiba-tiba dan tidak dipersiapkan dengan baik.

Sebanyak 59.938 kematian dilaporkan di rumah sakit di seluruh wilayah China antara 8 Desember 2022 hingga 12 Januari 2022 terkait dengan Covid-19. Data tersebut diungkapkan menurut Komisi Kesehatan Nasional seperti dikutip Bloomberg, Minggu (14/1/2023).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Dari jumlah tersebut, 5.503 meninggal karena gagal napas dan 54.435 meninggal karena penyakit lain tetapi terinfeksi Covid-19.

Usia rata-rata pasien yang meninggal terbilang sudah tua, yaitu 80,3 tahun dan lebih dari 90 persen dari mereka memiliki penyakit lain atau komorbid, termasuk penyakit kardiovaskular, tumor lanjut, dan penyakit metabolik.

BACA JUGA: Kesasar Akibat GPS, Truk Harus Dievakuasi di Tanjakan Sicekuk Kulonprogo

"Jumlah kematian orang lanjut usia relatif tinggi karena meningkatnya insiden penyakit pernafasan dan kejengkelan penyakit kardiovaskular di musim dingin di kalangan orang tua," kata Jiao Yahui, seorang pejabat di komisi tersebut.

Komisi tersebut mengatakan semakin sulit untuk mengukur dampak Covid-19 di China karena pihak berwenang sering menghentikan rilis data dan baru-baru ini mengadopsi definisi yang lebih sempit tentang kematian akibat Covid-19. Pasalnya, hanya pasien yang meninggal karena gagal pernapasan yang disebabkan oleh virus yang dihitung oleh pemerintah China. 

Padahal, laporan kematian yang melonjak di sebagian besar negara di media sosial menunjukkan jumlah sebenarnya dari pesien yang meninggal akibat infeksi mungkin jauh lebih tinggi daripada hitungan resmi pemerintah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bloomberg

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Rp23,5 Miliar APBD Kulonprogo Digelontorkan untuk Kesehatan Warga Miskin

Kulonprogo
| Senin, 06 Februari 2023, 18:47 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement