Advertisement

Sejarah Gunung Krakatau, Sempat Istirahat 200 Tahun dan Kini Kembali Erupsi

Erta Darwati
Kamis, 05 Januari 2023 - 09:57 WIB
Sunartono
Sejarah Gunung Krakatau, Sempat Istirahat 200 Tahun dan Kini Kembali Erupsi Letusan Gunung Anak Krakatau terlihat dari foto udara yang diambil dari pesawat Cessna 208 B Grand Caravan milik Maskapai SusiAir di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Bisnis - Nurul Hidayat

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Rabu (4/1/2023) kembali mengalami erupsi. Gunung tersebut mengalami erupsi sejak Selasa (3/1/2023) pada pukul 16:38 WIB, dengan abu vulkanik berwarna kelabu pekat mengarah ke Timur Laut.

Terpantau dari seismograf bahwa amplitudo maksimum erupsi Gunung Anak Krakatau 47 mm dengan durasi 22 detik. Diketahui, Gunung Anak Krakatau terbentuk dari erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1927.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Erupsi bercampur magma basa muncul di pusat komplek Krakatau pada 11 Juni 1927, dan sejak itu dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Gunung Krakatau berdasarkan sejarah yang dilansir dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pernah mengalami letusan besar pada 416 SM, yang menyebabkan tsunami.

Beberapa letusan terjadi pada abad 3, 9, 10, 11, 12, 14, 16, 17 yang diikuti dengan pertumbuhan kerucut Rakata, Danan, dan Perbuatan. Kegiatan vulkanik tersebut berhenti pada tahun 1681.

Gunung Krakatau sempat beristirahat selama 200 tahun, dan kembali memperlihatkan kegiatannya yang diawali dari beberapa letusan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan.

Erupsi Gunung Krakatau terjadi pada tahun 1883 dengan letusan dahsyat yang menyebabkan hilangnya 2 gunung, Danan dan Perbuatan, serta sebagian Gunung Rakata.

Erupsi ini menyebabkan tsunami yang menyapu kota-kota kecil di sepanjang pantai Banten dan Lampung Selatan, termasuk kota Teluk Betung. Di Teluk Betung, gelombang pasang air laut mencapai tinggi 20 meter. 

Kota Merak yang terletak di semenanjung Banten, dilanda gelombang pasang setinggi 30 meter dan 40 meter. Gelombang pasang ini juga menyapu Teluk Semangko.

Gelombang pasang merusak banyak perkampungan dan korban jiwa, diantaranya 2.500 penduduk tewas di kampung Benewani, 327 hilang di Tanjungan dan Tanot Baringin dan 244 jiwa di Beteong.

Gelombang pasang setinggi 13,6 meter juga melanda mercusuar Bengkulen yang terbuat dari beton dan menewaskan 10 orang yang sedang bekerja.

Gelombang pasang yang meninggalkan Krakatau pada pukul 10.00 WIB merambat dalam waktu 2 jam 30 menit mencapai Jakarta, yang berjarak 169 km.

Adapun Gunung Krakatau tenang kembali mulai Februari 1884 sampai Juni 1927, dan pada 11 Juni 1927 Gunung Anak Krakatau muncul.

Setelah itu, Gunung Krakatau mengalami erupsi setiap tahun, yaitu 1928, 1929, 1930, 1931, 1932, sampai tahun 1963.

Selanjutnya, kembali erupsi pada tahun 1968, 1972, 1973, 1975, 1979, 1981, 1984, 1988, 1992, 2000, 2001, 2005, 2007, 2008, 2010, dan 2011.

Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) hampir seluruh tubuh Gunung Krakatau yang berdiameter ± 2 km merupakan kawasan rawan bencana. PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan permukaan laut.

“Akan terus memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan muka air laut di Selat Sunda,” tulis PVMBG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kapan Bantul dan Kulonprogo Tersambung Lewat JJLS? Ini Jadwalnya

Jogja
| Rabu, 08 Februari 2023, 06:27 WIB

Advertisement

alt

Meski Ada Gempa, Minat Masyarakat ke Turki Tak Surut

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement