Advertisement

PBB Sebut Warga Sipil Ukraina Hadapi Ujian untuk Bertahan Hidup

Erta Darwati
Kamis, 08 Desember 2022 - 07:47 WIB
Bhekti Suryani
PBB Sebut Warga Sipil Ukraina Hadapi Ujian untuk Bertahan Hidup Ilustrasi - Militer Ukraina klaim serang pertahanan udara Rusia di Kherson, Rabu (2/11/2022). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - PBB mengatakan bahwa serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina, dengan suhu yang dingin, menciptakan kebutuhan baru dalam perang. Warga Ukraina menghadapi ujian untuk bertahan hidup.

Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Kemanusiaan PBB Martin Griffiths memerinci ke Dewan Keamanan PBB pada Selasa (6/12/2022) bahwa jumlah kematian meluas, sejak invasiĀ  Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Dia mengatakan bahwa situasi telah memburuk oleh serangan Moskow baru-baru ini terhadap infrastruktur utilitas penting Ukraina. Hal itu menyebabkan jutaan orang tanpa akses ke sumber panas, listrik dan air, menambah krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh perang.

Griffiths mengatakan ada lebih dari 14 juta orang kini terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Ukraina, termasuk 7,8 juta orang mencari perlindungan di tempat lain di Eropa.

Selain itu, berdasarkan data dari kantor HAM PBB, sebanyak 17.023 warga sipil telah tewas, termasuk 419 anak-anak per 1Desember 2022, dan jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.

Lebih lanjut, setidaknya terdapat 715 serangan Rusia yang menghantam fasilitas kesehatan di Ukraina, seperti dilansir dari Aljazeera, Rabu (7/12/2022).

"Akibat serangan terhadap infrastruktur sipil, orang-orang kehilangan perawatan kesehatan dan anak-anak kehilangan pendidikan. Di Ukraina hari ini, kemampuan warga sipil untuk bertahan hidup diserang," kata Griffiths.

Dewan Keamanan PBB telah bertemu puluhan kali di Ukraina sejak Februari 2022, tetapi tidak dapat mengambil tindakan yang berarti.

Rusia adalah salah satu dari 5 anggota di badan yang beranggotakan 15 negara yang memiliki hak veto, bersama dengan China, Prancis, Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Rumah Sakit di Bantul Ini Setop Dulu Penggunaan Obat Praxion

Bantul
| Selasa, 07 Februari 2023, 20:27 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement