Advertisement

Inflasi Bisa Terkerek Gegara Tarif Ojol Naik

Anitana Widya Puspa
Minggu, 11 September 2022 - 23:17 WIB
Bhekti Suryani
Inflasi Bisa Terkerek Gegara Tarif Ojol Naik Sejumlah pengemudi ojek daring menunggu penumpang di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Institute (Indef) memaparkan sejumlah dampak kenaikan tarif ojek online (ojol) terhadap inflasi, angka pengangguran hingga pertambahan jumlah penduduk miskin.

Peneliti Indef Nailul Huda menyampaikan saat ini tingkat inflasi Indonesia berada pada angka 4,69 persen. Dia menilai angka inflasi berpotensi terkerek lebih tinggi dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif transportasi ojek online (ojol).

Huda menyebut sektor transportasi merupakan penyumbang tertinggi inflasi kedua setelah makanan, minuman, dan tembakau. Oleh karena itu, kenaikan tarif ojol bisa berefek domino ke perekonomian Indonesia.

"Makanya waktu itu, kami minta hitung ulang tarif ojol. Makanya jadi 6-10 persen. Karena terkait dengan dampak inflasi yang bisa saja terjadi," kata Huda, Minggu (11/9/2022).

Tak hanya itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) di sektor transportasi juganaik cukup tinggi dan diharapkan tidak kembali naik dengan adanya penyesuaian tarif ojek online.

Berdasarkan kajiannya, dia melihat apabila ada kenaikan inflasi 2 persen yang disebabkan oleh tarif ojek online dapat mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) senilai Rp1,76 triliun dan menyebabkan gaji turun sebesar 0,0094 persen, dan pendapatan usaha 0,017 persen. Ada potensi penurunan tenaga kerja juga 14.000 jiwa dan peningkatan penduduk miskin 0,14 persen.

Sementara itu, dengan penurunan tarif ojol yang lebih rendah dan pengaruhnya ke tingkat inflasi sebesar 0,5 persen, PDB berkurang menjadi Rp436 miliar, upah tenaga kerja menjadi turun sebesar 0,006 persen. Kemudian peningkatan pengangguran 869 jiwa serta kenaikan penduduk miskin relatif terbatas menjadi 0,04 persen.

"Ini yang kami hitung kalau tarif ojek online menyebabkan inflasi hingga 0,5 persen. Ini yang masih bisa relatif bisa diterima oleh kondisi makro ekonomi kita," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kemenhub telah menerbitkan aturan terkait kenaikan biaya jasa minimal atau tarif minimum dan tarif per kilometer untuk tarif ojol di tiga zonasi. Kenaikannya berkisar antara 6-13 persen.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Hendro Sugiatno, saat konferensi pers menyatakan penetapan tarif ojol dilakukan dalam rangka penyesuaian terhadap beberapa komponen biaya jasa seperti harga BBM, upah minimum regional (UMR), dan komponen perhitungan jasa lainnya.

Advertisement

“Untuk biaya jasa ojek online 2022 kita putuskan adanya kenaikan yaitu untuk zona I dari batas bawah Rp1.850 naik ke Rp2.000 atau kenaikan 8 persen. Untuk batas atas dari Rp2.300 naik menjadi Rp2.500 yaitu naik 8,7 persen dan biaya jasa minimal menjadi Rp8.000-Rp10.000,” jelasnya.

BACA JUGA: Kalau RUU Sisdiknas Disahkan, Ini 5 Perubahan di Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah

Sementara untuk zona II terjadi kenaikan biaya batas bawah sebesar 13,33 persen dan batas atas sebesar 6 persen jika dibandingkan dari Keputusan Menteri Perhubugan No.548/2020.

Advertisement

“Untuk zona II yaitu dari KP 548 Tahun 2020 batas bawah Rp2.250 naik menjadi Rp2.550, untuk batas atas dari Rp2.650 naik menjadi Rp2.800. Jadi ada kenaikan batas bawah 13 persen, batas atas 6 persen. Biaya jasa minimal Rp10.200-11.200,” terang Hendro.

Untuk zona III batas bawah dari Rp 2.100 naik menjadi Rp2.300 (naik 9,5 persen), batas atas dari Rp2.600 menjadi Rp2.750 (naik 5,7 persen), dan biaya jasa minimal Rp9.200-11.000.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Jadwal Donor & Update Stok Darah di DIY Hari Ini

Jogja
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 10:37 WIB

Advertisement

alt

Hadir Tempat Glamping Baru di Jogja, Arkamaya Sembung Namanya

Wisata
| Jum'at, 30 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement