Advertisement
Buang Sampah di Laut Bakal Terdeteksi Satelit
Anggota Polair Polda NTB mengangkat sampah dari laut saat aksi bersih pantai di Tanjung Karang, Mataram, NTB, Kamis (21/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi
Advertisement
Harianjogja.com, JEMBRANA - Sejumlah strategi dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di laut. Salah satunya dengan menyiapkan teknologi satelit yang mampu mencari pelaku pembuangan sampah ilegal di laut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut bahwa sampah plastik telah berkontribusi besar terhadap kerusakan laut di Indonesia. Parahnya, sampah plastik tersebut kebanyakan berasal dari luar negeri.
Advertisement
“Sampah plastik bukan hanya dari dalam Indonesia, tapi sampah plastik berasal dari luar Indonesia, banyak sekali,” kata Trenggono dalam peluncuran Program Konservasi Laut Indosat Ooredoo Hutchison, di Perancak, Jembrana, Bali, Kamis (4/8/2022).
Untuk itu, KKP menerapkan satu teknologi Marine Time Surveillance. Teknologi berbasis satelit ini dapat memonitor 24 jam siapapun yang membuang sampah ke laut, termasuk kapal-kapal asing.
BACA JUGA: Saat Sultan Jogja Murka dengan Kasus Pemaksaan Berjilbab di Sekolah Negeri
“Kalau ada tumpukan plastik di laut, asalnya dari mana itu bisa langsung kebaca. Nggak apa-apa kalau kapalnya sudah pergi tetapi tetap terbaca dan kemudian kita bisa deteksi nama kapal dan pemiliknya, tinggal sekali klik," lanjut Trenggono.
Dalam mengatasi permasalahan kerusakan ekosistem laut, KKP juga berkolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dengan meluncurkan program Konservasi Laut di Desa Perancak, Jembrana, Bali, Kamis (4/8/2022).
"Kami berkomitmen untuk berperan aktif dalam menciptakan kawasan konservasi laut yang lebih sehat,” kata President Director dan CEO IOH Vikram Sinha.
Program Konservasi Laut memiliki 4 aspek yang berfokus pada rehabilitasi habitat laut, pengelolaan sampah plastik di daerah pesisir, penguatan komunitas konservasi penyu, dan penguatan masyarakat di lingkungan sekitar.
Kawasan Jembrana dipilih karena berpotensi menjadi kawasan konservasi seluas 3.500 hektar yang memiliki target nilai konservasi tinggi untuk biota laut terancam punah (penyu dan hiu), habitat penting lautan (bakau, lamun dan terumbu karang), potensi perikanan (lemuru dan ikan karang), tempat budidaya ikan dan udang serta ekowisata bahari. Tak sampai di situ, Jembrana merupakan 1 dari 14 prioritas pantai lokasi peneluran penyu di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kebijakan Luar Negeri Trump Mengeras, Targetkan Greenland-Iran
- IAGI Ungkap Dua Penyebab Dugaan Sinkhole di Limapuluh Kota
- Indonesia Larang Impor Daging Babi dari Spanyol akibat Wabah ASF
- Bareskrim Selidiki Dugaan Kejahatan Lingkungan di Banjir Bandang Aceh
- Kim Jong Un Klaim Uji Rudal Hipersonik Respons Situasi Global
Advertisement
Pemkab Gunungkidul Bidik PAD Wisata Rp36,4 Miliar pada 2026
Advertisement
Jadi Primadona, Umbul Pelem Klaten Raup Omzet Miliaran Sepanjang 2025
Advertisement
Berita Populer
- Pemkab Bantul Setop Tambang Ilegal di Bawuran Pleret
- Kantor Diduga Scam di Sleman Tutup Usai Penggerebekan Polisi
- Polisi Kerahkan 1.060 Personel Jaga Aksi Buruh Hari Ini di Jakarta
- Pergerakan Tanah Masih Terjadi di Lokasi Sinkhole Situjua Sumbar
- Prabowo Gelar Retret Kabinet di Hambalang, Evaluasi Program Prioritas
- Mulai 2026, Gaji Guru PPPK Bantul Minimal Setara UMK
- Modus Liquid Vape, BNN Ungkap Lab Narkoba Jaringan Global di Ancol
Advertisement
Advertisement



