Advertisement
BBM dan LPG Serentak Naik, Inflasi Berpotensi Menggila Tahun Ini
Pedagang melayani pembeli di Pasar Karbela, Jakarta, Senin (9/5/2022). - Antara Foto/Dhemas Reviyanto
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Tingkat inflasi domestik berpotensi menembus level 5 persen, sejalan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan bahwa dampak dari kenaikan harga pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) tersebut cukup berisiko pada tingkat inflasi.
Advertisement
“Proyeksi inflasi bisa menyentuh 5 hingga 5,5 persen year on year tahun ini. Semakin tinggi disparitas harga barang subsidi dan nonsubsidi, semakin tinggi migrasinya,” katanya kepada Bisnis, Senin (11/7/2022).
Bhima menilai, kenaikan harga yang berimbas pada inflasi akan mempengaruhi konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah yang akan menghabiskan uang lebih banyak untuk biaya kebutuhan hidup.
“Daya beli kelas menengah akan turun dan berdampak terhadap penjualan berbagai produk sekunder dan tersier. Siap-siap penjualan rumah, kendaraan bermotor, dan barang elektronik akan turun,” jelasnya.
BACA JUGA: Kejahatan Child Grooming di Bantul Terbongkar, Polda DIY Temukan Fakta Mencengangkan!
Sementara itu, masyarakat kelas atas dinilai cenderung lakukan saving atau menahan diri untuk belanja dikarenakan sinyal inflasi akan tinggi tahun ini.
Adapun, pemerintah juga akan membatasi pembelian BBM dan LPG bersubsidi agar bantuan yang diberikan pemerintah tepat sasaran.
Namun demikian, Bhima menilai kebijakan pembatasan tersebut berisiko memicu masalah, salah satunya disebabkan oleh faktor pendataan.
Menurutnya, masalah pendataan harus diperbaiki, rumah tangga yang masuk golongan subsidi dan non-subsidi harus dipetakan.
“Masalahnya pembatasan yang dilakukan sedikit terlambat karena penggunaan MyPertamina misalnya justru menyulitkan orang miskin yang berhak membeli,” katanya.
Bhima menambahkan, pemerintah perlu mendorong pembangunan jaringan gas untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor yang nilainya mencapai Rp80 triliun.
“Windfall dari pendapatan pajak dan PNBP komoditas ekspor, sebaiknya sebagian disisihkan untuk bangun jaringan pipa jargas. Itu solusi tapi selama ini progress lambat dan kurang jadi prioritas,” tambah Bhima.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Indonesia pada Juni 2022 telah mencapai 4,35 persen yoy.
Pada periode yang sama, inflasi bulanan mencapai 0,61 persen (month-to-month/mtm) dan inflasi tahun kalender 2022 sebesar 3,19 persen.
Secara tahunan, makanan minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,47 persen dan inflasinya mencapai 1,77 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadwal SIM Keliling di Sleman Kamis 12 Maret 2026, Cek Lokasinya
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Liga Champions Dini Hari: PSG vs Chelsea dan Madrid vs City
- Telkom Percepat Transformasi TLKM 30 hingga 2030
- Harga Emas Pegadaian Hari Ini: UBS dan Galeri 24 Kompak Naik
- Bukan Sekadar Idol K-Pop, Jisoo BLACKPINK Sabet Penghargaan Akting
- Pelajar SMP di Sragen Tewas Usai Motor Tergelincir di Jembatan
- Tudor Akui Salah Turunkan Kinsky Saat Tottenham Dibantai Atletico
- Layanan BRI dan BNI Saat Idulfitri 2026, Ini Jadwalnya
Advertisement
Advertisement







