Advertisement

BKKBN: Pemakaian Kontrasepsi Bisa Tekan Angka Stunting

Media Digital
Kamis, 07 Juli 2022 - 18:37 WIB
Arief Junianto
BKKBN: Pemakaian Kontrasepsi Bisa Tekan Angka Stunting Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menerima penghargaan The 2022 United Nations Population Award (UNPA) atau Penghargaan Dunia di Bidang Kependudukan tahun 2022 untuk kategori Institusi dari PBB, Kamis (7/7/2022). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) secara hibrida di Medan, Sumatera Utara pada Kamis (7/7/2022).

Peringatan itu sejatinya menjadi momentum percepatan penurunan stunting. Melalui kontrasepsi yang tepat, BKKBN optimistis dapat menurunkan angka stunting di Indonesia dengan lebih cepat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menghadiri acara puncak Harganas tersebut menyebut target penurunan stunting pada 2024 harus tercapai. Target tersebut berupa penurunan stunting hingga angka 14%. Pada 2021 lalu, angka stunting Indonesia di angka 24,4%.

 Jokowi mengapresiasi BKKBN yang telah berhasil menurunkan angka stunting. “Pada 2013 angkanya 37,2% lalu turun jadi 27,7%, dan turun lagi pada 2021 jadi 24,4% ini patut diapresiasi,” jelasnya, Kamis.

Mengenakan pakaian adat Batak, Jokowi juga turut berdialog dengan tenaga penyuluh lapangan BKKBN. “Tugas ibu-ibu [tenaga penyuluh] sangat vital dalam percepatan penurunan angka stunting, jadi harus giat dalam mensosialisasikan stunting dan penggunaan kontrasepsi untuk memberikan jarak kelahiran,” ujarnya.

Harganas yang juga dihadiri jajaran pejabat kementerian, gubernur, bupati dan walikota se Indonesia ini total dihadiri 105.000 orang secara hibrida. Tajuk kegiatan yang digunakan adalah Bebas Stunting, Ayo Cegah Stunting, Agra Keluarga Bebas Stunting.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menyebut penggunaan kontrasepsi dapat mencegah kelahiran anak dengan potensi stunting lebih tinggi.

“Jika ada jeda kelahiran dengan kelahiran berikutnya, orang tua khususnya ibu dapat memulihkan kesehatan dan kebugaran tubuhnya dan dapat merawat anak lebih optimal,” jelasnya saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

BACA JUGA: DIY Sukses Tekan Angka Stunting

Hasto menjelaskan penggunaan kontrasepsi yang tepat sudah terbukti menurunkan angka stunting. “Dari 2019 ada 27,7 persen kelahiran bayi dengan stunting, ada penurunan signifikan pada 2021 dengan hanya 24,4 persen bayi yang mengalami stunting,” ujarnya.

Advertisement

Dalam Harganas kali ini ini, jelas Hasto, juga dilakukan pemasangan akseptor serentak di seluruh Indonesia. “Kami lakukan pemasangan satu juta akseptor dan sudah terealisasi lebih dari target sebesar 1.294.882 pada hari ini,” katanya.

Inovasi dilakukan BKKBN, lanjut Hasto, dengan program grebek pascapersalinan di mana sang ibu direkomendasikan langsung menggunakan kontrasepsi. “Kalau sampai pasca bersalin tidak KB maka sangat sulit sekali menurunkan stunting," tuturnya.

Lingkungan Rumah

Advertisement

Selain kontrasepsi, Hasto menjelaskan lingkungan rumah juga jadi kunci penanganan stunting. “Untuk itu kami bikin sanitasi yang bersih dan sehat di lokasi Harganas sebagai langkah percontohan untuk penanganan stunting,” ujarnya.

“Kami ke Belawan dalam hal itu. Harapan saya jadi pemerintah bantu berikan stimulasi terus warga gotong royong saling dukung program ini. Jadi sudah diberikan sarana misal ada air bersih jadi dirawat sendiri, dibikinkan rumah dijaga biar gak kumuh, kebersihan dijaga sendiri,” ujar dia.

Lokasi tersebut juga jadi kunjungan kerja Presiden Jokowi dalam memperingati Harganas di Sumatera Utara. Jokowi dalam kunjungan tersebut disambut dengan tarian lokal Semarak Indonesiaku dari Kampung KB binaan Dinas Kebudayaan Kota Medan.

Wali Kota Medan yang turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Harganas juga menyatakan komitmennya untuk memerangi stunting dan menggencarkan penggunaan kontrasepsi.

Advertisement

"Penurunan stunting penting untuk menghindari dampak jangka panjang yang dapat merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak dan juga mempengaruhi perkembangan otak, sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal," kata Bobby.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Duh, hingga September, Angka Demam Berdarah di Sleman Tembus 236 Kasus

Sleman
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 05:57 WIB

Advertisement

alt

Hadir Tempat Glamping Baru di Jogja, Arkamaya Sembung Namanya

Wisata
| Jum'at, 30 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement