Nyalon Lagi Jadi Ketum PBNU, Said Agil: Mimpi Saya Masih Besar!

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, memberikan sambutan pada peluncuran buku Tiga Tahun Jokowi Wujud Kerja Nyata, di Jakarta, Senin (6/11). - JIBI/Dwi Prasetya
22 Desember 2021 14:17 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-KH Said Aqil Siradj mengaku masih mempunyai mimpi yang besar untuk memajukan Nahdlatul Ulama (NU). Makanya, dia mengatakan masih siap mengemban tugas sebagai Ketua Umum PBNU untuk ketiga kalinya.

“Mimpi saya masih banyak. Cita-cita saya, mimpi saya, tiap cabang NU punya Pendidikan Tinggi dan Rumah Sakit. Itu kepercayaan umat,” ujar Kiai Said dalam diskusi bertajuk “Gagasan Kiai Said Menuju Muktamar NU” di TVNU, dikutip Rabu (22/12/2021).

Dia mengatakan, masih banyak cita-cita yang ingin direngkuh demi umat. Cita-cita ini merupakan impian dirinya untuk melihat kemajuan NU di segala level.  Profesor Tasawuf dari Ummul Qura, Madinah, itu menganggap tugasnya belum selesai memajukan Pendidikan di tubuh NU.

Said Aqil menuturkan, pendidikan dan reorganisasi pengembangan NU jadi salah satu tumpuan gagasan yang dibawanya dalam Muktamar  ke 34 NU di Lampung pada 22-23 Desember 2021.

Jika terpilih, ini kali ketiga bagi Pengasuh Pesantren Tsaqofah Ciganjur ini di NU. Kali pertama adalah Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010-2015 dan 2015-2020 di forum Muktamar Jombang ke-34.

Beliau pun menjanjikan, dalam 5 tahun ke depan NU sebagai organisasi akan kian matang. 

“5 tahun ke depan, digitalisasi kian masif, penguatan database lewat KartaNU (anggota NU) dan terbuka arus globalisasi. Meski begitu, tidak liberal. Pesantren tetap jadi landasan, kitab kuning jadi tumpuan, Bahtsul Masal akan berjalan lebih maju,” tuturnya.

Bahtsul Masail adalah forum musyawarah ulama untuk membahas isu dan hukum segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, NU tidak akan meninggalkan tradisi karena kekuatan NU mengabdi di masyarakat.

“NU itu sudah seperti 50 persen jumlah populasi Indonesia. Selama 10 tahun, baru kali ini keuangan NU bisa diaudit dan dapat WTP hingga dua kali,” katanya.

Wajar tanpa pengecualian (WTP) untuk sebuah organisasi begitu penting. Itu membuktikan, lanjut Said, NU sebagai organisasi sudah transparan dan terpercaya.

“Soal pembenahan organisasi, dua kali NU dapat WTP. Lembaga zakat NU, misalnya, dulu ada uang 500 juta, sekarang 1,8 triliyun. Kuncinya adalah, dorong Lembaga organisasi di internal NU untuk jalan demi umat,” pungkasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia