Omicron Masuk Indonesia, Kebijakan Perjalanan Nataru Perlu Diubah

Petugas memeriksa suhu tubuh dari pemudik saat tiba di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Sabtu (15/5/2021). - Antara
19 Desember 2021 17:57 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah diminta untuk mengubah syarat perjalanan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini seiring dengan ditemukannya penularan Covid-19 varian Omicron di Indonesia.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Djoko Setijowarno mengatakan bahwa kelonggaran kebijakan terkait perjalanan di periode Nataru kali ini akan meningkatkan potensi pergerakan masyarakat.

“Jangan sampai varian Omicron menyebar meluas di Tanah Air, dan harus dihindari agar tidak terjadi gelombang ketiga,” ujarnya, Minggu (19/12/2021).

Menurutnya, pengawasan di terminal penumpang, pelabuhan, dan pelabuhan penyeberangan harus ditingkatkan. Tes Antigen bagi penumpang Bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) harus diberikan dengan gratis, dan pemberian vaksinasi langsung di terminal bagi masyarakat yang baru menerima vaksinasi dosis pertama harus dilakukan.

Selain itu, kebersihan armada dan awak bus yang sehat juga menjadi jaminan bagi penumpang yang bepergian menggunakan bus.

Hal itu dilakukan supaya perusahaan bus tetap dapat beroperasi, dan angkutan pelat hitam tidak merajalela. Hal yang sama juga dapat diberlakukan pada pelabuhan dan pelabuhan penyeberangan.

Dia menjelaskan, penegakan hukum terhadap aktivitas angkutan pelat hitam harus digencarkan dalam upaya mengurangi orang bepergian tanpa pengawasan. Rata-rata angkutan pelat hitam bisa mencapai sekitar 1.000 kendaraan per hari dari Jawa Tengah dan Jawa Barat menuju Jabodetabek.

Mobilitas menggunakan jalan raya juga akan meningkat seiring dengan tujuan perjalanan ke daerah wisata.

Rest area, kata dia, juga dapat menjadi tempat berkumpul pengguna tol yang perlu diawasi. Terlebih, pada akhir-akhir ini terjadi peningkatan aktivitas di rest area seiring dengan bertambahnya pengguna jalan tol.

Seiring dengan hal tersebut, kata dia, saat ini kapasitas pengunjung di lokasi wisata hanya diperkenankan maksimal 75 persen. Perjalanan menuju lokasi wisata juga harus berkeselamatan.

Dia pun mengingatkan bahwa aktivitas transportasi yang tidak sehat akan mendorong percepatan dan perluasan wabah atau penyakit di sebuah daerah.

"Waspada varian Omicron adalah penting, namun tidak perlu panik, sehingga harus menghentikan aktivitas bertransportasi. Aktivitas transportasi yang terhenti akan berdampak pada aktivitas ekonomi yang menurun. Bermobilitas secara sehat agar aktivitas ekonomi tetap bergerak,” imbuhnya.

Djoko meyakini, perlu kampanye dan sosialisasi penyelenggaraan transportasi yang sehat ke seluruh pihak yang berkepentingan, baik regulator, operator, maupun pengguna jasa transportasi untuk memastikan jaminan perjalanan yang higienis.

“Akan lebih bijak juga jika masyarakat tidak melakukan perjalanan yang tidak penting selama masa Natal dan Tahun Baru,” ucapnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia