Menteri Perdagangan Akan Perbaiki Aturan Belanja Online dan Offline

ilustrasi jual barang lewat e-commerce - Freepik.com
12 Desember 2021 07:57 WIB Rahmi Yati News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku akan memperbaiki tata laksana belanja online dan offline agar tercipta perdagangan yang adil untuk kedua sektor sehingga menjadi perdagangan yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Lutfi juga mengingatkan kepada Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) agar membuat strategi penjualan ritel melalui shopping experience. Pasalnya, studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 18.000 mal akan menjadi 4.000 mal saja dalam 10 tahun.

"Saya berjanji akan memperbaiki daripada tata laksana belanja online dan offline. Belanja online ini adalah lapangan baru tidak ada aturan, saya katakan bahwa Menteri Perdagangan bertindak sebagai wasit," katanya dikutip Sabtu (11/12/2021).

Menurut Lutfi, bila aturannya terlalu ketat tidak akan ada perdagangan penjual dan pembeli. Namun kalau didiamkan, akan terjadi pertarungan yang sangat liar dan berbahaya.

Guna mengantisipasi hal tersebut, dia menyebut pemerintah tengah dalam proses memperbaiki tata cara dan kompetisi belanja online dan offline.

"Di tahun depan akan diterbitkan peraturan-peraturan yang berkeadilan bagi perdagangan online dan offline agar tercipta perdagangan yang adil untuk offline dan online sehingga menjadi perdagangan yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia," tambahnya.

Lebih lanjut Lutfi mengaku bahwa Kementerian Perdagangan selalu mengedepankan kepentingan-kepentingan nasional terutama untuk menggerakkan ekonomi.

Dia menuturkan, saat ini Indeks keyakinan konsumen pada November 2021 sebesar 118,5 lebih tinggi dari Oktober yaitu 113,4. Indonesia juga masuk dalam 5 negara di dunia yang mendapatkan level 1 terkait dengan Covid-19 dari WHO. Sementara target pertumbuhan ekonomi tahun depan 5 persen.

"Terima kasih atas kerja sama dengan Hippindo terutama dalam menerapkan aplikasi PeduliLindungi agar pusat perbelanjaan dapat dibuka dan menggerakkan perekonomian nasional untuk bisa lebih baik. Hal paling penting adalah memutus mata rantai Covid-19 karena impact-nya dasyat sekali terhadap perekonomian nasional dan secara langsung di ritel," imbuhnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia